KETIMPANGAN GENDER DALAM DUNIA PENDIDIKAN DIKAITKAN DENGAN SOSIOLOGI TERAPAN

Published November 29, 2011 by eliclalahi

MASALAH-MASALAH SOSIAL
KETIMPANGAN GENDER DALAM DUNIA PENDIDIKAN DIKAITKAN DENGAN SOSIOLOGI TERAPAN

Masalah sosial adalah suatu kondisi atau proses dalam masyarakat yang dilihat dari suatu sudut yang tidak diinginkan. Kondisi tersebut dipandang salah atau abnormal.
Dasar pemikiran:
1. Karena adanya masyarakat yang memuaskan.
2. Adanya alternative pemecahan masalah memungkinkan dilakukan.
3. Adanya perubahan sosial
4. Perubahan sosial itu kontinue
5. Perubahan masayarakat dapat diarahkan ke arah yang memuaskan.
Salah satu masalah sosial yang terjadi di negara ini adalah masalah gender. Lebih spesifiknya adalah ketimpangan gender dalam dunia pendidikan yang akan dibahas dibawah ini.

Konsep Gender
Untuk memahami konsep gender harus dibedakan dengan konsep jenis kelamin atau seks. Pengertian jenis kelamin merupakan pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis. Sedangkan konsep gender yakni suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan karena dikonstruksikan secara sosial dan kultural. Jadi semua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat laki-laki dan perempuan, yang bisa berubah dari waktu ke waktu dari tempat ke tempat lainnya, itulah yang dikenal dengan konsep gender. Jadi selama hal itu bisa dipertukarkan, bisa dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan namanya bukan kodrat, tetapi konstuksi gender. Konstuksi gender inilah yang tampaknya suka atau tidak harus mulai didekonstruksi sesuai dengan tuntutan zaman. Karena sosok perempuan yang kita lihat sekarang ini sangat jauh berbeda dengan sosok perempuan pada waktu-waktu lampau.
Mengenai permasalahan gender tidak lepas dari sebuah teori yang mendasar yang dapat dibagi kepada dua kelompok teori yakni teori sosial makro, dan mikro.Berbicara mengenai wacana gender dalam pendidikan tidak lepas dari faktor lainnya seperti organisasi keluarga dan pekerjaan, surplus ekonomi, kecanggihan tekhnologi, kepadatan penduduk dan lainnya. Karena kesemuanya adalah variabel yang saling mempengaruhi banyak hal tentang gender begitu pun didalam fenomena pendidikan.

Ketimpangan gender di bidang pendidikan dapat diartikan sebagai suatu kesenjangan antara kondisi gender sebagaimana yang dicita-citakan (kondisi normatif) dengan kondisi gender sebagaimana adanya (kondisi objektif) di bidang pendidikan (Menteri Negara Peranan Wanita, 1998). Ketimpangan gender disebut juga permasalahan gender atau isu gender. Lebih lanjut kondisi normatif contohnya,kesempatan mengikuti pendidikan formal bagi laki-laki (pria) dan perempuan (wanita) sama. Sedangkan kondisi objektif contohnya, semakin tinggi jenjang pendidikan (SLTP ke atas), jumlah perempuan yang mengikuti pendidikan formal lebih sedikit daripada laki-laki. Pendidikan adalah proses penerusan nilai oleh pendidik (guru atau dosen) kepada anak didik (siswa atau mahasiswa). Dalam kaitannya dengan pendidikan, dapat dibedakan sebagai berikut. (1) Pendidikan formal, yakni pendidikan melalui bangku sekolah, direncanakan, sangat dilembagakan dan bertata tingkat, seperti TK, SD dan seterusnya sampai perguruan tinggi. (2) Pendidikan non formal, yakni pendidikan di luar bangku sekolah, tetapi direncanakan, seperti penyuluhan, kursus-kursus, penataran dan lainnya. (3)Pendidikan informal, yakni pendidikan di luar bangku sekolah yang tidak direncanakan, tetapi berlangsung seumur hidup, seperti membaca surat kabar dan media cetak lainnya, mengikuti teladan dari orang tua, mengikuti perilaku dari sahabat atau kerabat, dan lain-lainnya. Dalam tulisan ini, yang dimaksudkan adalah pendidikan formal.

Ketimpangan Gender

NGO Womankind mengidentifikasi 3 kendala bagi pendidikan perempuan : iklim ekonomi, sikap sosial, dan lingkungan sekolah. Sikap sosial seperti seorang petani mungkin memerlukan bantuan selama masa sibuk dan sangat mungkin menarik anak perempuannya dari sekolah dibandingkan anak laki-lakinya. Ia mengharapkan anak perempuannya ikut memikul beban rumah tangga. Selain itu, anak perempuan mungkin absen dari sekolah selama masa bulanan, karena kebiasaan sosial menuntutnya atau karena alasan praktis yang sederhana. Perkawinan dan menjadi ibu yang terlalu dini mungkin merupakan faktor sosial lainnya yang menghambat seorang anak perempuan menyelesaikan pendidikannya. Bagi gadis-gadis yang tetap mengecap pendidikan sekolah, lingkungan sekolah akan menentukan pendidikan macam apa yang diterimanya ini merupakan faktor utama dimana pendidik mungkin lebih mendukung ketidakadilan gender ketimbang menolak ketidakadilan tersebut. Sebagian besar pendidikan yang ditawarkan kepada anak perempuan merupakan “pedang bermata dua” yakni pendidikan itu memperkuat dan mempertinggi perasaan mereka tentang kekurangannya sebagai gadis. Selain itu, anak gadis sering ditawari kurikulum pendidikan yang terbatas, yang lebih menekankan pengetahuan kerumahtanggaan dan kemampuan keperempuanan lainnya ketimbang sains dan mata pelajaran teknik. Kebanyakan guru sendiri tidak menyadari diskriminasi yang dihadapi perempuan sebagai gender dan mereka tidak mampu menolak stereotipe dengan bersifat merusak dalam materi pendidikan, pilihan karier yang tersedia bagi anak gadis, dan lingkungan sekolah yang mungkin melakukan diskriminasi, semata-mata karena mereka tidak memahaminya. Salah satu akibat dari cara pendidikan konvensional yang cenderung memperkuat stereotipe sosial adalah semakin banyaknya jumlah gadis yang drop out ketika mereka menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Yang jelas jenis pendidikan ini melupakan perempuan, pendidikan semacam ini gagal mempersiapkan kaum perempuan kecuali perannya sebagai istri dan ibu.
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam membentuk Sumber Daya Manusia yang produktif, inovatif dan berkepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai budaya.Disamping memberikan nilai-nilai kognitif, afektif dan psikomotorik kepada setiap warga negara, pendidikan juga digunakan sebagai alat untuk mentransformasikan nilai-nilai yang diharapkan berguna dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Negara menjamin bahwa setiap warga negara (perempuan dan laki-laki) mempunyai kesamaan hak dan kewajiban yang sama untuk memperoleh pendidikan, yang dituangkan dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Untuk menyukseskan pembangunan, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi.Untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi,diperlukan pendidikan yang tinggi pula.Mengikutsertakan laki-laki dan perempuan dalam pembangunan, berarti memanfaatkan sumber daya insani yang potensial dalam pembangunan dan merupakan tindakan yang efisien dan efektif. Apalagi didukung dengan kualitas sumber daya manusia yang tinggi di bawah latar belakang pendidikan yang tinggi pula.Sumber daya manusia yang berkualitas rendah akan merupakan beban bagi pembangunan. Oleh karena itu, pendidikan mempunyai arti yang sangat penting.

Di dalam UUD 1945 dan GBHN di antaranya diamanatkan, bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam pembangunan,termasuk pembangunan di bidang pendidikan (kondisi normatif). Namun kenyataan menunjukkan (kondisi objektif), seperti yang dikemukakan oleh Menteri Negara Peranan Wanita (1998), perempuan mengalami ketertinggalan yang lebih banyak daripada laki-laki dalam berbagai bidang pembangunan,baik sebagai pelaku maupun sebagai penikmat hasil pembangunan,termasuk pembangunan di bidang pendidikan.Ini artinya, masih terdapat ketimpangan gender di bidang pendidikan.Bagaimana ketimpangan gender di bidang pendidikan dan apa faktor-faktor penentu ketimpangan gender di bidang pendidikan itu, kiranya menarik untuk ditelaah.

Dikemukakan oleh Bemmelen (2003b) ketimpangan gender di bidang pendidikan dapat dilihat dari indikator kuantitatif: (1) angka buta huruf, (2) angka partisipasi sekolah, (3) pilihan bidang studi dan (4) komposisi staf pengajar dan kepala sekolah. Ketimpangan gender dari masing-masing indikator tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.

(1) Angka Buta Huruf
Melek huruf merupakan syarat utama untuk berpartisipasi dalam kehidupan modern dan pengembangan kualitas sumber daya manusia. Pada berbagai belahan dunia, di antaranya di negara Timur Tengah, Asia Tenggara dan Afrika Sub Sahara,masih dijumpai fakta yang mencengangkan mengenai kondisi perempuan. Anak perempuan atau wanita yang bersekolah (mengenyam pendidikan formal) lebih rendah 75 juta orang daripada anak laki-laki atau pria dan dari jumlah yang buta huruf ternyata dua pertiga adalah perempuan. Di Indonesia, jenjang pendidikan formal juga menunjukkan perbedaan gender yang signifikan. Tingkat pendidikan formal perempuan secara umum lebih rendah daripada laki-laki (Agung Ariani,2002).

Di Bali, khususnya di pedesaan (daerah desa) masih banyak perempuan yang tidak lansia umurnya, yakni kelompok umur 10 s.d 44 tahun yang buta huruf jika dibandingkan dengan laki-laki dalam kelompok umur yang sama. Perempuan mencapai angka 11,1 %, sedangkan laki-laki 3,5 %. Namun di perkotaan (daerahkota) ketimpangan gender tidak setajam itu, yakni perempuan mencapai angka 3,6 % sedangkan laki-laki 1,3 % (PutraAstiti, 2002 dan Bemmelen, 2003b).

(2) Angka Partisipasi Sekolah (APS)
Di Indonesia, semakin tinggi tingkat pendidikan formal, semakin sedikit proporsi anak perempuan bersekolah. Sekadar sebagai suatu ilustrasi, dikemukakan oleh Rajab (2002) data tahun 1990 ratio gender (perbandingan antara laki-laki dengan perempuan) sebagai berikut. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) 100 : 95;untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 100 : 89; untuk Sekolah LanjutanTingkat Atas (SLTA) 100 : 84 dan untuk Perguruan Tinggi 100 : 69.

Kiranya ada tiga alasan pokok yang menyebabkan ketimpangan gender tersebut. (1) Semakin tinggi tingkat pendidikan formal semakin terbatas jumlah sekolah. Untuk mengikuti pendidikan formal yang lebih tinggi (SLTP ke atas) yang umumnya terkonsentrasi di kota, baik laki-laki maupun perempuan harus pergi keluar desa atau meninggalkan desa dengan jarak yang relatif jauh. Hal ini memberatkan orang tua terhadap anak perempuan yang bersekolah jauh, karena akan merasa kehilangan tenaga kerja yang membantu di rumah. (2) Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi biaya yang diperlukan. Bagi keluarga atau rumah tangga yang berlatar belakang ekonomi lemah (miskin), umumnya lebih mengutamakan anak laki-laki untuk mengikuti pendidikan formal yang lebih tinggi,karena tenaga kerja perempuan dibutuhkan di rumah. (3) Investasi pendidikan formal bagi perempuan kerap kali tidak banyak dirasakan oleh orang tua, karena anak perempuan setelah menikah akan menjadi anggota keluarga suaminya(Suleeman, dalam TO. Ihromi 1995).

(3) Pilihan Bidang Studi
Ketimpangan gender terlihat juga dalam pilihan bidang studi. Hal ini dapat dibuktikan pada sekolah kejuruan, seperti misalnya Sekolah Kepandaian Puteri(SKP), yakni suatu sekolah khusus untuk anak perempuan, Sekolah Teknik Menengah (STM) umumnya untuk anak laki-laki dan sebagainya. Dalam penjurusan di tingkat SLTA, umumnya anak perempuan lebih banyak mengisi jurusan IlmuPengetahuan Sosial (IPS), sedangkan anak laki-laki lebih banyak mengisi jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Hal ini rupanya tidak terlepas dari stereotipe gender, anak perempuan lebih banyak membantu di rumah dengan waktu belajar yang lebih sedikit daripada anak laki-laki. Sedangkan anak laki-laki lebih banyak dipacu belajar dan dibebaskan dari tugas yang berkaitan dengan pekerjaan urusan rumah tangga.

Gejala pemisahan gender(gender segregation) dalam jurusan atau program studi sebagai salah satu bentuk diskriminasi gender secara sukarela (voluntary discrimination) ke dalam bidang keahlian masih banyak ditemukan. Pemilihan jurusan-jurusan bagi anak perempuan lebih dikaitkan dengan fungsi domestik, sementara itu anak laki-laki diharapkan berperan dalam menopang ekonomi keluarga sehingga harus lebih banyak memilih keahlian-keahlian ilmu keras,tehnologi dan industri. Penjurusan pada pendidikan menengah kejuruan dan pendidikan tinggi menunjukkan masih terdapat stereotipe dalam sistem pendidikan di Indonesia yang mengakibatkan tidak berkembangnya pola persaingan sehat menurut gender. Sebagai contoh, bidang ilmu sosial pada umumnya didominasi siswa perempuan,sementara bidang ilmu teknis umumnya didominasi siswa laki-laki.

Berkaitan dengan pilihan fakultas dan jurusan di Perguruan Tinggi,oleh Suleeman (dalam T O. Ihromi, 1995), bahwa proporsi laki-laki dan perempuan di fakultas dan jurusan di Universitas Indonesia menunjukkan ketimpangan gender yang signifikan. Di samping itu, dinyatakan oleh Agung Ariani (2002) umumnya perempuan memilih sekolah yang penyelesaian pendidikannya memerlukan waktu pendek dan cepat bisa bekerja. Sebagai alasan diantaranya, untuk menunjang ekonomi rumah tangga dan untuk biaya melanjutkan studi saudara laki-lakinya.

(4) Komposisi Staf Pengajar dan Kepala Sekolah
Ketimpangan gender dapat pula diketahui di kalangan staf pengajar dan kepala sekolah. Walaupun dalam tulisan ini tidak ada data kuantitatif, secara kualitatif kenyataan menunjukkan bahwa untuk Sekolah Taman Kanak-kanak didominasi oleh tenaga pengajar perempuan. Sedangkan untuk SD sampai dengan jenjang pendidikan di Perguruan Tinggi, tenaga pengajar laki-laki lebih dominan daripada tenaga pengajar perempuan. Kecendrungan yang serupa juga terlihat dikalangan kepala sekolah dan pimpinan universitas.

Faktor-faktor Penentu Ketimpangan Gender

Faktor-faktor penentu ketimpangan gender di bidang pendidikan meliputi (1) masalah lama, (2) nilai gender yang dianut oleh masyarakat, (3) nilai dan peran gender yang terdapat dalam buku ajar, (4) nilai gender yang ditanamkan oleh guru dan (5) kebijakan yang bias gender. Masing-masing faktor itu dapat dijelaskansebagai berikut.

(1) Masalah Lama
Sejak dulu Angka Partisipasi Sekolah anak perempuan lebih rendah dari pada laki-laki dan terfokus pada jenis pendidikan tertentu (Bemmelen, 2003a). Memang dilihat dari latar belakang sejarah, sejak dulu dari masa ke masa atau dari generasi ke generasi, perempuan selalu lebih sulit mendapatkan akses ke dalam pendidikan formal. Padahal, arti penting pendidikan formal bagi perempuan sudah dirasakan sejak lama. Hal ini sejalan dengan pemikiran R.A Kartini melalui perjuangan emansipasinya, yakni menginginkan pendidikan formal perempuan yang sama dengan laki-laki. Dirasakan hanya melalui pendidikan formal, perempuan akan bisa berdiri sama tinggi dengan laki-laki. Menurut R.A. Kartini, laki-laki dan perempuan mempunyai potensi yang sama, oleh karena itu perempuan akan bisa melangkah lebih maju apabila diberikan peluang yang sama dengan laki-laki. Dalam pikiran R.A Kartini, pendidikan formal akan dapat menetralisasikan perbedaan sifat kelakilakian dan keperempuanan yang merupakan hasil rekayasa budaya itu. Pendidikan formal diyakininya dapat menghilangkan perbedaan prasangka itu, sehingga yang tinggal hanyalah kodrati biologisnya.

(2) Nilai Gender yang Dianut oleh Masyarakat
Berkaitan dengan pendidikan formal, ada dua nilai gender yang menonjol yang masih berlaku di masyarakat, terutama di masyarakat pedesaan. “Untuk apa anak perempuan disekolahkan (tinggi-tinggi), nanti dia ke dapur juga”. “Untuk apa perempuan disekolahkan (tinggi-tinggi), nanti dia akan menjadi milik orang lain juga”.Pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan patrilineal seperti di Bali, nilai gender tersebut tampak lebih menonjol. Pada masyarakat yang berpegang pada sistem kekerabatan itu, lebih mengutamakan hubungan keluarga dengan garis laki-laki (ayah) daripada hubungan keluarga dengan garis perempuan (ibu). Dengan demikian, cenderung lebih mengutamakan anak laki-laki daripada anak perempuan di dalam memberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan formal.

(3) Nilai dan Peran Gender yang Terdapat dalam Buku Ajar
Contoh yang klasik mengenai sosialisasi gender melalui buku ajar diantaranya sebagai berikut. “Ibu memasak di dapur,Bapak membaca koran”. Ibu berbelanja ke pasar, Bapak mencangkul di sawah”.Bentuk seksisme lain; gambar-gambar lebih sering menampilkan anak lakilaki jika dibandingkan dengan anak perempuan dan dalam kegiatan yang lebih bervariasi.

(4) Nilai Gender yang Ditanamkan oleh Guru
Guru merupakan “role model” yang sangat penting di luar lingkungan keluarga anak. Disadari atau tidak, setiap orang termasuk guru mempunyai persepsi tentang peran gender yang pantas. Persepsi itu akan disampaikan secara langsung atau tidak langsung kepada murid (Bemmelen, 2003b). Berikut ini dikemukakan beberapa contoh yang membedakan.

a. Dalam hal-hal tertentu guru lebih banyak berinteraksi dengan anak laki-laki,tetapi dalam hal-hal tertentu lainnya guru lebih banyak berinteraksi dengan anak perempuan.
b. Dalam memberikan mainan di Taman Kanak-kanak; anak laki-laki diberikan mainan mobil, sedangkan anak perempuan diberikan mainan boneka.
c. Dalam memberikan pujian; anak lakilaki dipuji karena kemampuan intelektualnya, sedangkan anak perempuan dipuji karena kerapiannya.
d. Anak perempuan lebih sering disuruh untuk menjalankan peran membersihkan sesuatu atau meladeni sesuatu daripada anak laki-laki.
e. Guru lebih sering memberikan pujian atau teguran kepada anak laki-laki daripada anak perempuan. Ini artinya, anak laki-laki lebih banyak mendapat perhatian daripada anak perempuan.

(5). Kebijakan yang bias gender
Terutama di tingkat SLTA (SMU, SMK), terdapat kebijakan yang bias gender seperti (a) anak perempuan yang hamil (karena kecelakaan) dikeluarkan dari sekolah, sedangkan anak laki-laki yang menghamilinya tidak kena sanksi apapun, (b)tidak dibenarkan anak perempuan yang sudah menikah untuk mengikuti atau melanjutkan pendidikan di tingkat SLTP atau SLTA.Kebijakan pengangkatan guru atau kepala sekolah khususnya di tingkat SD,SLTP dan SLTA yang lebih berorientasi kepada laki-laki dan kebijakan pengangkatan guru dan kepala TK di TK yang lebih berorientasi kepada perempuan,juga merupakan kebijakan yang bias gender. Kebijakan itu merupakan pemicu ketimpangan gender, karena berimplikasi kepada komposisi personalia pengajar dan kepala sekolah.

Berkaitan dengan faktor penentu ketimpangan gender, selain faktor penentu yang telah diuraikan tersebut, penting pula diperhatikan keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas dan kurangnya fasilitas pendidikan. Bagi keluarga yang berlatar belakang ekonomi lemah, cendrung tidak memberikan anak perempuan untuk memanfaatkan kesempatan yang sama dengan anak laki-laki. Ada keperempuan dinomorduakan dalam mengikuti atau melanjutkan pendidikan formal.Apabila terjadi hal yang demikian, maka pemerintah yang memiliki komitmen terhadap peraturan wajib belajar, berkewajiban untuk mengimbanginya dengan kebijakan yang tepat. Di desa-desa atau daerah-daerah terpencil khususnya, fasilitas pendidikan masih kurang. Keadaan ini berpengaruh buruk terhadap akses anak desa untuk mengikuti pendidikan formal. Jika pada suatu desa tidak ada SD atau SLTP umpamanya, maka anak-anak terpaksa mengikuti pendidikan formal di luar desa,yakni di desa lain atau di kota terdekat yang membutuhkan waktu dan biaya transportasi khusus.

Dalam keadaan seperti itu, orang tua cenderung tidak mengijinkan anak perempuan bersekolah, apalagi sekolah terdekat berjarak jauh. Hal ini terutama terjadi di kalangan keluarga yang tidak mampu secara ekonomis.

Ada beberapa teori yang dapat lebih menjelaskan gender dalam keterkaitan sosiologi terapan, yaitu :
1. Teori Feminis
Pandangan feminis terhadap perbedaan peran gender laki-laki dan perempuan secara umum dapat dikategorikan kepada tiga kelompok seperti berikut:

a. Feminis Liberal
Adalah feminis yang mengusulkan bahwasannya perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, ciri dari gerakan ini tidak mengusulkan perubahan struktur secara fundamental, melainkan memasukan wanita kedalam struktur yang ada berdasarkan prinsip kesetaraan dengan laki-laki.

Jelas mungkin bila selama ini pendidikan lebih mendahulukan kaum laki-laki maka feminis ini lebih memperjuangkan tentang adanya kesetaraan mengenai hak-hak yang seharusnya diperoleh para perempuan yang sama dengan kaum adam. Contoh dalam pendidikan adanya kesamaan memperoleh hak yang sama dalam menimba ilmu apapun yang dipandang sebagai pendidikan untuk para pria contoh sekolah SMK/STM, AKABRI,AKPOL,Politik, dan lain sebagainya.

Inti ajaran feminis libeal
• Memfokuskan kepada perlakuan yang sama terhadap wanita diluar dari pada didalam keluarga.
• Memperluas kesempatan pendidikan merupakan langkah efektif untuk melakukan perubahan sosial.
• Pekerjaan rumah tangga seperti merawat anak, melayani bapak, menyusui,memandikan, memasak,mencuci dipandang sebuah pekerjaan tidak terampil yang merupakan pengandalan tubuh, bukan pikiran rasional.
• Perjuangan harus menyentuh kesetaraan politik antara wanita dan laki-laki,melalui perwakilan wanita diruang-ruang publik.
• Feminis saat ini cenderung lebih sejalan dengan liberalisme kesejahteraan atau egalitarian yang mendukung kesejahteraan Negara (welfare state)

b. Feminis Radikal
Feminis radaikal lebih menekankan kebalikan dari feminis liberal, jika sebelumnya kaum feminis mengusulkan kesetaraan kaum hawa dengan kaum adam maka radikal tidak demikian, hal ini dapat dilihat dari usulan bahwasannya hak antara laki-laki dan hak perempuan harus dibedakan. Misalnya wanita dan laki-laki mengkonseptualkan kekuasaan secara berbeda, bila laki-laki lebih pada mendominasi dan mengontrol orang lain maka perempuan lebih tertuju dalam berbagi dan merawat kekuasaannya.

Feminis ini menyatakan bahwasanya adanya keterasingan yang dialami kaum perempuan karena diciptakan oleh unsur politik maka transformasi personal lebih kepada aksi-aksi radikal.

Inti ajaran feminis radikal
• memprotres ekploitasi terhadap wanita (termasuk peran ibu, pasangan sex, dan istri) feminis radikal menganggap perkawinan sebagai bentuk formalitas yang mendeskriminasikan perempuan.
• masyarakat harus diubah secara menyeluruh,termasuk lembaga-lembaga sosial fundamental harus dirubah secara fundamental pula.

c. Feminis Sosialis
Aliran ini bertumpu pada teori Marx dan Engel yang beraliran sintesa histories-matrealis. Menurut Engel laki-laki dan perempuan berperan dalam pemeliharaan keluarga inti, namun karena tugas tradisional wanita mencakup pemeliharaan rumah tangga dan penyiapan makanan sedangkan tugas laki-laki mencari makan,memiliki dan memerintah budak serta memiliki alat-alat produksi yang mendukung tugas tersebaut. Dalam hal ini laki-laki meampunyai akumulasi kekayaan yang lebih tinggi dari perempuan. Hal ini yang menyebabkan posisi laki-laki dianggap lebih penting dan sangat mudah dalam mengekploitasi perempuan.

Inti ajaran feminis sosialis.
• Wanita tidak dimasukan kedalam analisis kelas. Dengan alasan karena wanita tidak mempunyai hubungan khusus dengan alat-alat produksi.
• Mengajukan solusi bahwasannya wanita harus dibayar untuk upah kerjanya dalam rumah tangga.
• Kapitalisme memperkuat sexism, karena memisahkan antara pekerjaan rumah tangga dan bergaji dan maendesak agar wanita melakukan pekerjaan di wilayah domestic.
Jika kita memahami ketiga teori diatas dan ketiga teori yang ada pada teori sosial makro sebelumnya maka gender bergerak bagaimana seharusnya perempuan. Jelas seperti dinyatakan dalam fungsionalis yang sama dengan pernyataan golongan liberal bahwa perempuan haruslah diposisikan keruang-ruang public dan memperoleah hak yang sama dengan laki-laki. Di Indoneasia mungkin kita teringat akan perjuangan Kartini sang pahlawan yang memeperjuangkan kesamaan perempuan dalam mengaksek dunia pendidikan dan dapat berkiprah di dunia public.

Yang kedua golongan radikal jelas kebalikan dari liberal kaitannya dengan pendidikan bisa ditebak keinginannya untuk merubah struktur masyarakat yang selama ini dianggap merugikan perempuan, yakni adanya isu ekploitasi kaum perempuan oleh para laki-laki. Mungkin jika kita melihat dalam pendidikan, bisa jadi protes atas gaji guru honorer perempuan yang lebih rendah dari guru laki-laki, bisa jadi protes atas kedudukan laki-laki yang mendominasi dunia pendidikan.

2. Teori Konflik
Dalam soal gender, teori konflik terkadang diidentikkan dengan teori Marx karena begitu kuat pengaruh Karl Marx di dalamnya. Teori ini berangkat dari asumsi bahwa dalam susunan di dalam suatu masyarakat terdapat beberapa kelas yang saling memperebutkan pengaruh dan kekuasaan. Bahwasannya pada teori konflik analitik lebih menggunakan pendekatan cultural, dalam teori ini melihat adanya ketimpangan gender yang selalu disebut sebagai stratifikasi jenis kelamin.

3. Teori Fungsionalis Struktural
Menurut teori ini, sistem nilai senantiasa bekerja dan berfungsi untuk menciptakan keseimbangan dalam masyarakat. Menurut istilah Talcott Parsons dan Robert Bales, hubungan antara laki-laki dan perempuan lebih merupakan pelestarian keharmonisan daripada bentuk persaingan. Mereka menilai bahwa pembagian peran secara seksual adalah sesuatu yang wajar. Suami-ayah mengambil peran instrumental, membantu memelihara sendi-sendi masyarakat dan keutuhan fisik keluarga dengan jalan menyediakan bahan makanan, tempat perlindungan, dan menjadi penghubung keluarga dengan dunia luar. Sementara itu, isteri-ibu mengambil peran ekspresif membantu mengentalkan hubungan, memberi dukungan emosional dan pembinaan kualitas yang menopang keutuhan keluarga dan menjamin kelancaran urusan rumah tangga.

Dalam teori ini juga dapat diartikan bahwa masyarakat itu masing-masing mempunyai fungsinya sendiri-sendiri yang menghasilkan keseimbangan. Apabila terjadi kepindahan fungsi tersebut maka akan mengalami disequilibrium. Itu berarti laki-laki dan perempuan memiliki fungsi masing-masing sesuai status dan perannya. Namun dalam bidang pendidikan, laki-laki dan perempuan adalah sama. Perempuan pun seharusnya tetap menjalankan status dan perannya apabila memiliki jenjang pendidikan yang tinggi.

Ada beberapa tahap dalam penanganan masalah sosial namun dalam paper ini bahwa yang dibahas adalah masalah ketimpangan gender dalam dunia pendidikan, yaitu :

1. Tahap identifikasi
Dalam hal ini menggunakan indikator partisipasi sosial yaitu bagaimana individu dalam masyarakat tersebut menjalankan status dan perannya. Dimana perempuan dan laki-laki memiliki kodratnya. Hal itulah yang seharusnya dijalankan. Bahwa yang perempuan bertugas sesuai dengan perannya sebagai ibu yaitu mengandung, melahirkan dan menyusui. Sedangkan tugas ayah adalah menafkahi keluarga. Namun dalam bidang pendidikan, semua memiliki hak yang sama. Permpuan berhak berpartisipasi dalam ranah pendidikan. Partisipasi dalam tahap pelaksanaan program kegiatan pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar. Dimana salah satu iklim yang kondusif untuk kegiatan belajar adalah pembinaan hubungan peserta didik dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik sehinggatercipta hubungan kemanusiaan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai, saling membantu, dan saling belajar.

2. Tahap diagnosis
Yaitu upaya untuk mencari tahu mengapa masalah ketimpangan gender tersebut sampai muncul di negara ini, khususnya dalam bidang pendidikan. Penyebabnya adalah pertama, ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis, tidak lemah, dan tidak takut. Kedua, proses pemisahan dari ibunya, yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu, namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai “anak mami”.

Akibat masih berlakunya berbagai norma sosial dan nilai sosial budaya tersebut di masyarakat, maka akses wanita terhadap sumber daya di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan menjadi terbatas. Terbentuknya perbedaan-perbedaan gender disebabkan oleh banyaknya hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstuksikan secara sosial dan kultural melalui ajaran keagamaan dan negara.

Faktor yang menghambat akses perempuan ke sekolah lanjutan atas dan perguruan tinggi di antarany aakses yang masih terbatas. Jumlah sekolah yang terbatas dan jarak tempuh yang jauh diduga lebih membatasi anak perempuan untuk bersekolah dibandingkan laki-laki. Perkawinan dini juga diduga menjadi sebab mengapa perempuan tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

3. Tahap treatment
Yaitu upaya menemukan solusi yang tepat dan ideal. Yang setelah kita menemukan alasan mengapa masalah tersebut sampai timbul, maka dapat ditemukan pemecahannya. Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam tahap ini, yaitu:

a) Rehabilitatif : orientasi pengembangan kapasitas / perbaikan yang ideal.
Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan, sekolah secara kelembagaan dan terutama guru.
Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. Selain itu, guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. Selain itu juga dapat melakukan revisi terhadap semua materi dan ilustrasi bahan ajar yang belum tanggap gender, yang diperlukan untuk menanamkan pengetahuan tentang kesetaraan dan keadilan gender pada anak sejak dini.

b) Preventif : antisipasi / pencegahan sebelum masalah itu terjadi.
Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan keluarga. Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan keluarga, tentu tidak lagi didasarkan atas “apa kata ayah”. Jadi, orang tua yang berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri.

c) Developmental : usaha untuk mengembangkan kemampuan sekelompok komunitas tertentu.
Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, melalui Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 DAN Permendiknas Nomor 84 Tahun 2008 sebagai bentuk komitmen negara terhadap berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan.

Berbagai peraturan perundang-undangan tersebut kemudian dijabarkan ke dalam berbagai kebijakan, program dan kegiatan, yang tersurat dalam berbagai dokumen pemerintah dan disusun atas dasar pengakuan terhadap adanya peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat,dan bernegara.

Hal yang lain adalah menyediakan pelayanan pendidikan secara lebih luas dan beragam sehingga dapat diakses oleh semua anak Indonesia. Ketersediaan fasilitas pelayanan pendidikan yang lebih dekat dengan tempat tinggal anak diharapkan dapat mengurangi keengganan anak untuk bersekolah atau keberatan orang tua untuk menyekolahkan anak serta dapat menurunkan biaya yang harus dikeluarkan orang tua.

Ada beberapa usaha lainnya dalam menangani Kesetaraan Gender bidang Pendidikan:
1. Meningkatkan akses terhadap pendidikan yang bermutu, relevan
dan berdaya saing
2. Memberikan kesempatan yang setara kepada. anak laki-laki dan
perempuan untuk mencapai potensi mereka
3. Mewujudkan hak dasar akan pendidikan bagi laki-laki dan
perempuan
4. Mewujudkan UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 & Renstra
Depdiknas 2005-2009 serta Tujuan Pendidikan Untuk Semua untuk tahun 2015:
Tujuan 2: Menjamin bahwamenjelang tahun 2015 semua anak, khususnya anak perempuan, anak-anak dalam keadaan yang sulit danmereka yang termasuk etnik minoritas, mempunyai akses pada danmenyelesaikan pendidikan dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas yang baik

Tujuan 5: Penghapusan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 danmencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015 dengan fokus pada kepastian sepenuhnya bagi anak perempuan terhadap akses dalam memperoleh pendidikan dasar yang bermutu.

Ada beberapa kebijakan yang dapat diterapkan agar tidak terjadi kesenjangan gender dalam pendidikan yaitu kebijakanyang diambil adalah mewujudkan persamaan akses pendidikan yang bermutu dan berwawasan gender bagi semua anak laki-laki dan perempuan ; menurunkan tingkat buta huruf penduduk dewasa terutama penduduk perempuan melalui peningkatan kinerja pendidikan pada setiap jenjang pendidikan, baik melalui sekolah maupun luar sekolah, pendidikan kesetaraan dan pendidikan baca tulis fungsional bagi penduduk dewasa ;dan meningkatkan kemampuan kelembagaan pendidikan dalam mengelola dan mempromosikan pendidikan yang berwawasan gender.

Kebijakan-kebijakan tersebut dapat dilakukan melalui lima strategi utama, yaitu: penyediaan akses pendidika nyang bermutu, terutama pendidikan dasar secara merata bagi anak laki-laki dan perempuan baik melalui pendidikan persekolahan maupun pendidikan luar sekolah; penyediaan akses pendidikan kesetaraan bagi penduduk usia dewasa yang tidak dapat mengikuti pendidikan sekolah; peningkatan penyediaan pelayanan pendidikan baca tulis untuk meningkatkan derajat melek huruf, terutama penduduk perempuan; peningkata nkoordinasi, informasi, dan edukasi dalam rangka mengarusutamakan pendidikan berwawasan gender;dan pengembangan kelembagaan institusi pendidikan baik di tingkat pusat maupun daerah mengenai pendidikan berwawasan gender.

Itulah beberapa tahap-tahap penanganan dalam ketimpangan gender dalam dunia pendidikan yang sampai sekarang masih terjadi di negara ini. Kiranya ini bukan hanya sekedar wacana saja, namun sudah saatnya dimulai dari diri kita untuk terbiasa dengan wacana kesetaraan gender. Saatnya perempuan bangkit bukan untuk melawan laki-laki akan tetapi mulai memperlihatkan siapa dirinya, apa keinginannya, meningkatkan dan mengembangkan kemampuan, menentukan hidupnya mau ke mana. Dan tentunya dapat memecahkan permasalahan yang ada dengan sasaran kinerja pendidikan berwawasan gender yang ingin dicapai dalam akses pendidikan adalah (a) meningkatnya partisipasi pendidikan penduduk usia sekolah yang diikuti dengan semakin seimbangnya rasio siswa laki-laki dan perempuan untuk semua jenjang pendidikan; (b) meningkatkan partisipasi penduduk miskin laki-lakidan perempuan terutama yang tinggal di daerah pedesaan yang masih rendah sehingga menjadi setara dengan penduduk dari kelompok kaya, (c) dan meningkatkan derajat melek huruf penduduk baik laki-laki maupun perempuan dengan rasio yang semakin setara.

Sudah selayaknya jika mulai melakukan redefinisi dan rekonstruksi terhadap sosok perempuan perempuan secara menyeluruh bukan sepotong-potong. Pada era globalisasi seperti ini perempuan tak lagi menjadi sosok yang penurut, manut, dan tetap diam dalam rumah, tetapi sudah seharusnya berorientasi global yang mampu berpikir kritis. Pendidikan bukan lagi hanya baik dan pantas untuk para lelaki, namun perempuan pun berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengenyam bangku pendidikan. Pendidikan dengan jenjang tinggi juga pantas diberikan oleh perempuan, sehingga perempuan pun kelak dapat ambil bagian dalam menaruh sumbangsihnya terhadap pembangunan di negara ini.

Dengan makin banyaknya jumlah perempuan keluar rumah maka terjadi perubahan-perubahan terhadap pola kerja dalam rumah tangganya. Blue print yang selama ini melekat kuat akan mengalami rekonseptualisasi sesuai dengan kondisi dan perubahan yang ada di masyarakat. Sudah selayaknya kita tidak berharap terlalu banyak pada perempuan untuk menjadi superwoman, mengingat sudah waktunya kita mensosialisasikan nilai-nilai pada masyarakat pun perlu melakukan rekonstuksi terhadap peran perempuan.

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan(ed). 1997. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Agung Ariani, I Gusti Ayu.2002.Mengenal Konsep Gender (Permasalahan dan Implementasinya dalam Pendidikan).

Bemmelen, Sita Van. 2003a. Konsep Gender dan Isu Gender di Bidang Pendidikan.
Semiloka Gender untuk Para Guru/Pendidik Kabupaten/Kota se Bali.

Bemmelen, Sita Van. 2003b. Isu Gender di Bidang Pendidikan. Semiloka Gender
untuk Para Guru Kabupaten/Kota se Bali.

Catatan1 United Nations Development Group, 2003. Indicators for Monitoring the Millennium Development Goals: Definitions, Rationale, Concepts and Sources. United Nations, New York.

Cleves, Julia Mosse. 1992. Gender dan Pembangunan. Pustaka Pelajar

Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Handoyo, Eko, dkk. 2007. Studi Masyarakat Indonesia. Semarang : UNNES Press

Menteri Negara Peranan Wanita. 1998. Jender dan Permasalahannya. Kantor
Menteri Negara Peranan Wanita. Jakarta.

Putra Astiti, Tjok Istri. 2002. Identifikasi Permasalahan Gender dalam Pendidikan.
Materi Sosialisasi Gender untuk Para Guru/Pendidik Kabupaten/Kota se Bali
yang Diselenggarakan oleh Pusat Studi Wanita Universitas Udayana Bekerja
Sama dengan BKPP PEMDA Bali di Balai Penataran Guru Denpasar.

Pasal 31 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Rajab, Budi. 2002. Pendidikan Sekolah dan Perubahan Kedudukan Perempuan.
Jurnal Perempuan No. 23. Yayasan Jurnal Perempuan.

Suleeman, Evelyn. 1995. Pendidikan Wanita Indonesia. Dalam T O. Ihromi
(Penyunting). Kajian Wanita Dalam Pembangunan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Umar, Nasaruddin. 2001. Argumen Kesetaraan Jender. Jakarta : Paramadina

UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 & Renstra Depdiknas 2005-2009

Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 DAN Permendiknas Nomor 84 Tahun 2008 Baca selengkapnya →

Antropologi Indonesia

Published November 29, 2011 by eliclalahi

MULTIKULTURALISME (Masyarakat Majemuk Indonesia)

Masyarakat majemuk terbentuk dari dipersatukannya masyarakat-masyarakat suku bangsa oleh sistem nasional, yang biasanya dilakukan secara paksa (by force) menjadi sebuah bangsa dalam wadah negara. Sebelum Perang Dunia kedua, masyarakat-masyarakat negara jajahan adalah contoh dari masyarakat majemuk. Sedangkan setelah Perang Dunia kedua contoh-contoh dari masyarakat majemuk antara lain, Indonesia, Malaysia, Afrika Selatan, dan Suriname. Ciri-ciri yang menyolok dan kritikal dari masyarakat majemuk adalah hubungan antara sistem nasional atau pemerintah nasional dengan masyrakat suku bangsa, dan hubungan di antara masyarakat suku bangsa yang dipersatukan oleh sistem nasional. Dalam perspektif hubngan kekuatan, sistem nasional atau pemerintahan nasional adalah yang dominan dan masyarakat-masyarakat suku bangsa adalah minoritas. Hubungan antara pemerintah nasional dengan masyarakat suku bangsa dalam masyarakat jajahan selalu diperantarai oleh golongan perantara, yang posisi ini di hindia Belanda dipegang oleh golongan Cina, Arab, dan Timur Asing lainnya untuk kepentingan pasar. Sedangkan para sultan dan raja atau para bangsawan yang disukung oleh para birokrat (priyayi) digunakan untuk kepentingan pemerintahan dan penguasaan. Atau dipercayakan kepada para bangsawan dan priyayi untuk kelompok-kelompok suku bangsa yang digolongkan sebagai terbelakang atau primitif.
Dalam masyarakat majemuk dengan demikian ada perbedaan-perbedaan sosial, budaya, dan politik yang dikukuhkan sebagai hukum ataupun sebagai konvensi sosial yang membedakan mereka yang tergolong sebagai dominan yang menjadi lawan dari yang minoritas. Dalam masyarakat Hindia Belanda, pemerintah nasional atau penjajah mempunyai kekuatan militer dan polisi yang dibarengi dengan kekuatan hukum untuk memaksakan kepentingan-kepentingannya, yaitu mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia. Dalam struktur hubungan kekuatan yang berlaku secara nasional, dalalm penjajahan Hindia Belanda terdapat golongan yang paling dominan yang berada pada lapisan teratas, yaitu orang Belanda dan orang kulit putih, disusul oleh orang Cina, Arab, dan Timur asing lainnya, dan kemudian yang terbawah adalah mereka yang tergolong pribumi. Mereka yang tergolong pribumi digolongkan lagi menjadi yang tergolong telah mengenal peradaban dan mereka yang belum mengenal peradaban atau yang masih primitif. Dalam struktur yang berlaku nasional ini terdapat struktur-struktur hubungan kekuatan dominan-minoritas yang bervariasi sesuai konteks-konteks hubungan dan kepentingan yang berlaku.
Dalam masa pendudukan Jepang di Indonesia, pemerintah penajajahan Jepang yang merupakan pemerintahan militer telah memposisikan diri sebagai kekuatan memaksa yang maha besar dalam segala bidang kehidupan masyarakat suku bangsa yang dijajahnya. Dengan kerakusannya yang luar biasa, seluruh wilayah jajahan Jepang di Indonesia dieksploitasi secara habis habisan baik yang berupa sumber daya alam fisik maupun sumber daya manusianya (seperti Romusha), yang merupakan kelompok minoritas dalam perspektif penjajahan Jepang. Warga masyarakat Hindia Belanda yang kemudian menjadi warga penjajahan Jepang menyadari pentingnya memerdekakan diri dari penjajahan Jepang yang amat menyengsarakan mereka, memerdekakan diri pada tanggal 17 agustus tahun 1945, dipimpin oleh Soekarno-Hatta.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang disemangati oleh Sumpah Pemuda tahun 1928, sebetulnya merupakan terbentuknya sebuah bangsa dalam sebuah negara yaitu Indonesia tanpa ada unsur paksaan. Pada tahun-tahun penguasaan dan pemantapan kekuasaan pemerintah nasional barulah muncul sejumlah pemberontakan kesukubangsaan-keyakinan keagamaan terhadap pemerintah nasional atau pemerintah pusat, seperti yang dilakukakn oleh DI/TII di jawa Barat, DI/TII di Sulawesi Selatan, RMS, PRRI di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan, Permesta di Sulawesi Utara, dan berbagai pemberontakan dan upaya memisahkan diri dari Republik Indonesia akhir-akhir ini sebagaimana yang terjadi di Aceh, di Riau, dan di Papua, yang harus diredam secara militer. Begitu juga dengan kerusuhan berdarah antar suku bangsa yang terjadi di kabupaten Sambas, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Maluku yang harus diredam secara paksa. Kesemuanya ini menunjukkan adanya pemantapan pemersatuan negara Indonesia secara paksa, yang disebabkan oleh adanya pertentangan antara sistem nasional dengan masyarakat suku bangsa dan konflik di antara masyarakat-masyarakat suku bangsa dan keyakinan keagamaan yang berbeda di Indonesia.
Dalam era diberlakukannya otonomi daerah, siapa yang sepenuhnya berhak atas sumber daya alam, fisik, dan sosial budaya, juga diberlakukan oleh pemerintahan lokal, yang dikuasai dan didominasi administrasi dan politiknya oleh putra daerah atau mereka yang secara suku bangsa adalah suku bangsa yang asli setempat. Ini berlaku pada tingkat provinsi maupun pada tingkat kabupaten dan wilayah administrasinya. Ketentuan otonomi daerah ini menghasilkan golongan dominan dan golongan minoritas yang bertingkat-tingkat sesuai dengan kesukubangsaan yang bersangkutan.
Hubungan Dominan-Minoritas
Kelompok minoritas adalah orang-orang yang karena ciri-ciri fisik tubuh atau asal-usul keturunannya atau kebudayaannya dipisahkan dari orang-orang lainnya dan diperlakukan secara tidak sederajad atau tidak adil dalam masyarakat dimana mereka itu hidup. Karena itu mereka merasakan adanya tindakan diskriminasi secara kolektif. Mereka diperlakukan sebagai orang luar dari masyarakat dimana mereka hidup. Mereka juga menduduki posisi yang tidak menguntungkan dalam kehidupan sosial masyarakatnya, karena mereka dibatasi dalam sejumlah kesempatan-kesempatan sosial, ekonomi, dan politik. Mereka yang tergolong minoritas mempunyai gengsi yang rendah dan seringkali menjadi sasaran olok-olok, kebencian, kemarahan, dan kekerasan. Posisi mereka yang rendah termanifestasi dalam bentuk akses yang terbatas terhadap kesempatan-kesempatan pendidikan, dan keterbatasan dalam kemajuan pekerjaan dan profesi.
Keberadaan kelompok minoritas selalu dalam kaitan dan pertentangannya dengan kelompok dominan, yaitu mereka yang menikmati status sosial tinggi dan sejumlah keistimewaan yang banyak. Mereka ini mengembangkan seperangkat prasangka terhadap golongan minoritas yang ada dalam masyarakatnya. Prasangka ini berkembang berdasarkan pada adanya (1) perasaan superioritas pada mereka yang tergolong dominan; (2) sebuah perasaan yang secara intrinsik ada dalam keyakinan mereka bahwa golongan minoritas yang rendah derajadnya itu adalah berbeda dari mereka dantergolong sebagai orang asing; (3) adanya klaim pada golongan dominan bahwa sebagai akses sumber daya yang ada adalah merupakan hak mereka, dan disertai adanya ketakutan bahwa mereka yang tergolong minoritas dan rendah derajadnya itu akan mengambil sumberdaya-sumberdaya tersebut.
Dalam pembahasan tersebut di atas, keberadaan dan kehidupan minoritas yang dilihat dalam pertentangannya dengan dominan, adalah sebuah pendekatan untuk melihat minoritas dengan segala keterbatasannya dan dengan diskriminasi dan perlakukan yang tidak adil dari mereka yang tergolong dominan. Dalam perspektif ini, dominan-minoritas dilihat sebagai hubungan kekuatan. Kekuatan yang terwujud dalam struktur-struktur hubungan kekuatan, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat-tingkat lokal. Bila kita melihat minoritas dalam kaitan atau pertentangannya dengan mayoritas maka yang akan dihasilkan adalah hubungan mereka yang populasinya besar (mayoritas) dan yang populasinya kecil (minoritas). Perspektif ini tidak akan dapat memahami mengapa golongan minoritas didiskriminasi. Karena besar populasinya belum tentu besar kekuatannya.
Konsep diskriminasi sebenarnya hanya digunakan untuk mengacu pada tindakan-tindakan perlakuakn yang berbeda dan merugikan terhadap mereka yang berbeda secara askriptif oleh golongan yang dominan. Yang termasuk golongan sosial askriptif adalah suku bangsa (termasuk golongan ras, kebudayaan sukubangsa, dan keyakinan beragama), gender atau golongan jenis kelamin, dan umur. Berbagai tindakan diskriminasi terhadap mereka yang tergolong minoritas, atau pemaksaan untuk merubah cara hidup dan kebudayaan mereka yang tergolong minoritas (atau asimilasi) adalah pola-pola kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat majemuk. Berbagai kritik atau penentangan terhadap dua pola yang umum dilakukan oleh golongan dominan terhadap minoritas biasanya tidak mempan, karena golongan dominan mempunyai kekuatan berlebih dan dapat memaksakan kehendak mereka baik secara kasar dengan kekuatan militer dan atau polisi atau dengan menggunakan ketentuan hukum dan berbagai cara lalin yang secara sosial dan budaya masuk akal bagi kepentingan mereka yang dominan. Menurut pendapat saya, cara yang terbaik adalah dengan merubah masyarakat majemuk (plural society) menjadi masyarakat multikultural (multicultural society), dengan cara mengadopsi ideologi multikulturalisme sebagai pedoman hidup dan sebagai keyakinan bangsa Indonesia untuk diaplikasikan dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Multikulturalisme dan Kesederajatan
Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang menekankan pengakuan dan penghargaan pada kesederajatan perbedaan kebudayaan. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah para pendukung kebudayaan, baik secara individual maupun secara kelompok, dan terutma ditujukan terhadap golongan sosial askriptif yaitu sukubangsa (dan ras), gender, dan umur. Ideologi multikulturalisme ini secara bergandengan tangan saling mendukung dengan proses-proses demokratisasi, yang pada dasarnya adalah kesederajatan pelaku secara individual (HAM) dalam berhadapan dengan kekuasaan dan komuniti atau masyarakat setempat.
Sehingga upaya penyebarluasan dan pemantapan serta penerapan ideologi multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, mau tidak mau harus bergandengan tangan dengan upaya penyebaran dan pemantapan ideologi demokrasi dan kebangsaan atau kewarganegaraan dalam porsi yang seimbang. Sehingga setiap orang Indoensia nantinya, akan mempunyai kesadaran tanggung jawab sebagai orang warga negara Indonesia, sebagai warga sukubangsa dankebudayaannya, tergolong sebagai gender tertentu, dan tergolong sebagai umur tertentu yang tidak akan berlaku sewenang-wenang terhadap orang atau kelompok yang tergolong lain dari dirinya sendiri dan akan mampu untuk secara logika menolak diskriminasi dan perlakuakn sewenang-wenang oleh kelompok atau masyarakat yang dominan. Program penyebarluasan dan pemantapan ideologi multikulturalisme ini pernah saya usulkan untuk dilakukan melalui pendidikakn dari SD s.d. Sekolah Menengah Atas, dan juga S1 Universitas. Melalui kesempatan ini saya juga ingin mengusulkan bahwa ideologi multikulturalisme seharusnya juga disebarluaskan dan dimantapkan melalui program-program yang diselenggarakan oleh LSM yang yang sejenis.
Mengapa perjuangan anti-diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas dilakukan melalui perjuangan menuju masyarakat multikultural? Karena perjuangan anti-diskriminasi dan perjuangan hak-hak hidup dalam kesederajatan dari minoritas adalah perjuangan politik, dan perjuangan politik adalah perjuangan kekuatan. Perjuangan kekuatan yang akan memberikan kekuatan kepada kelompok-kelompok minoritas sehingga hak-hak hidup untuk berbeda dapat dipertahankan dan tidak tidak didiskriminasi karena digolongkan sebagai sederajad dari mereka yang semula menganggap mereka sebagai dominan. Perjuangan politik seperti ini menuntut adanya landasan logika yang masuk akal di samping kekuatan nyata yang harus digunakan dalam penerapannya. Logika yang masuk akal tersebut ada dalam multikulturalisme dan dalam demokrasi.
Upaya yang telah dan sedang dilakukan terhadap lima kelompok minoritas di Indonesia oleh LSM, untuk meningkatkan derajad mereka, mungkin dapat dilakukan melalui program-program pendidikan yang mencakup ideologi multikulturalisme dan demokrasi serta kebangsaan, dan berbagai upaya untuk menstimuli peningkatan kerja produktif dan profesi. Sehingga mereka itu tidak lagi berada dalam keterbelakangan dan ketergantungan pada kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat setempat dimana kelompok minoritas itu hidup.

Baca selengkapnya →

Penulisan Karya Ilmiah

Published November 26, 2011 by eliclalahi

SILABUS
NAMA UNIVERSITAS : UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
MATA PELAJARAN : PENULISAN KARYA ILMIAH
SEMESTER : 4
DURASI PEMBELAJARAN : 9 X 100 menit
STANDAR KOMPETENSI : PROSEDUR PENULISAN KARYA ILMIAH

KOMPETENSI MATERI KEGIATAN INDIKATOR PENILAIAN SUMBER
DASAR PEMBELAJARAN BELAJAR Jenis Tagihan Bentuk Instrumen WAKTU BELAJAR
1.1 Menjelaskan hakikat karya ilmiah dan membedakan karakteristik berbagai jenis karya ilmiah Uraian materi meliputi:

• Pengertian karya ilmiah
• Ciri-ciri karya ilmiah
• Jenis Karya Ilmiah
• Bentuk Karya Ilmiah
• Kerangka Umum Karya Ilmiah
• Mengkaji pengertian karya ilmiah
• mendeskripsikan ciri-ciri karya ilmiah
• mendeskripsikan jenis dan bentuk karya ilmiah
• membuat kerangka umum karya ilmiah • Menjelaskan pengertian karya ilmiah
• Menjelaskan ciri-ciri karya ilmiah
•Membedakan jenis karya ilmiah akademis dan profesional
• Mengidentifikasi bentuk karya ilmiah dan pola penyajiannya Tugas individu

Tugas individu

Uraian

Laporan 9×100 menit Bahan ajar Penulisan Karya Ilmiah

Contoh skripsi
1.2 Terampil memproduksi berbagai jenis karya ilmiah Materi Pokok meliputi :
• Hakikat dan jenis reproduksi karya ilmiah
• Sistematika Penulisan Karya Ilmiah
• Reproduksi karya ilmiah • Mendeskripsikan hakikat dan jenis reproduksi karya ilmiah
• Mengkaji sistematika penulisan
• Membuat contoh sistematika ringkasan/ikhtisar karya ilmiah • Menjelaskan perbedaan berbagai bentuk reproduksi karya ilmiah
• Terampil memproduksi berbagai jenis karya ilmiah untuk berbagai keperluan Tugas kelompok

Tugas individu Presentasi power point

Laporan 9×100 menit Bahan ajar Penulisan Karya Ilmiah

1.3 Terampil membedakan kaidah tinjauan pustaka, landasan teori, dan kerangka berpikir Materi Pokok meliputi :
• Tinjauan Pustaka
• Landasan Teori
• Kerangka berpikir • Menerapkan tinjauan pustaka ke dalam penulisan karya ilmiah
• Mengkaji contoh landasan teori
• Membedakan tinjauan pustaka dengan landasan teori
• Mendeskripsikan cara membuat kerangka berpikir • Terampil menerapkan penyusunan tinjauan pustaka
• Terampil menerapkan penyusunan landasan teoritis
• Terampil membuat kerangka berpikir Tugas Individu

Tugas Individu • Membuat rumusan masalah
• Membuat contoh tinjauan pustaka
•Membuat contoh landasan teori
• Membuat contoh kerangka berpikir 9×100 menit Buku yang berkaitan dengan tema karya ilmiah yang diminati siswa
1.4 Cermat menggunakan tata tulis karya ilmiah secara taat azas Materi Pokok meliputi :
• Kaidah Umum penulisan karya ilmiah
• Kaidah khusus penulisan karya ilmiah
• Mendeskripsikan kaidah umum penulisan karya ilmiah
Mendeskripsikan ragam khusus penulisan karya ilmiah
• Mengkaji perbedaan kaidah umum dan kaidah khusus dalam penulisan karya ilmiah
• Mengkaji daftar pustaka
• Membuat rujukan penulisan karya ilmiah
• Cermat menggunakan bahasa Indonesia ragam ilmiah dalam penulisan karya ilmiah secara baik dan benar
• Cermat menggunakan kaidah khusus tata tulis karya ilmiah dalam penulisan karya ilmiah Tugas Individu

Tugas Individu Uraian ulasan singkat

Laporan 9×100 menit Bahan ajar Penulisan Karya Ilmiah

Contoh skrippsi

Semarang, 3 Mei 2011

Eli Nova Silalahi Baca selengkapnya →

Kewirausahaan

Published November 26, 2011 by eliclalahi

MANAJEMEN PERUSAHAAN

Definisi Manajemen
Mendefinisikan manajemen ada berbagai ragam, ada yang mengartikan dengan ketatalaksanaan, manajemen pengurusan dan lain sebagainya. Pengertian manajemen dapat dilihat dari tiga pengertian.

1. Manajemen sebagai suatu proses
2. Manajemen sebagai suatu kolektivitas manusia
3. Manajemen sebagai ilmu ( science ) dan sebagai seni

Manajemen sebagai suatu proses. Pengertian manajemen sebagai suatu proses dapat dilihat dari pengertian menurut :
1. Encylopedia of the social science, yaitu suatu proses dimana pelaksanaan suatu tujuan tertentu dilaksanakan dan diawasi.
2. Haiman, manajemen yaitu fungsi untuk mencapai suatu tujuan melalui kegiatan orang lain, mengawasi usaha-usaha yang dilakukan individu untuk mencapai tujuan
3. Georgy R. Terry, yaitu cara pencapaian tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu dengan melalui kegiatan orang lain.

A. Manajemen sebagai kolektivitas yaitu merupakan suatu kumpulan dari orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kolektivitas atau kumpulan orang-orang inilah yang disebut dengan manajemen, sedang orang yang bertanggung jawab terhadap terlaksananya suatu tujuan atau berjalannya aktivitas manajemen disebut Manajer.
B. Manajemen sebagai suatu ilmu dan seni, melihat bagaimana aktivitas manajemen dihubungkan dengan prinsip-prinsip dari manajemen. Pengertian manajemen sebagai suatu ilmu dan seni dari :
1. Chaster I Bernard dalam bukunya yang berjudul The function of the executive, bahwa manajemen yaitu seni dan ilmu, juga Henry Fayol, Alfin Brown Harold, Koontz Cyril O’donnel dan Geroge R. Terry.
2. Marry Parker Follett menyatakan bahwa manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.
Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen yaitu koordinasi semua sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, penetapan tenaga kerja, pengarahan dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
C. Manajemen Sebagai Ilmu Dan Sebagai Seni
Manajemen merupakan suatu ilmu dan seni, mengapa disebut demikian, sebab antara keduanya tidak bisa dipisahkan. Manajemen sebagai suatu ilmu pengetahuan, karena telah dipelajari sejak lama, dan telah diorganisasikan menjadi suatu teori. Hal ini dikarenakan didalamnya menjelaskan tentang gejala-gejala manajemen, gejala-gejala ini lalu diteliti dengan menggunakan metode ilmiah yang dirumuskan dalam bentuk prinsip-prinsip yang diujudkan dalam bentuk suatu teori.
Sedang manajemen sebagai suatu seni, disini memandang bahwa di dalam mencapai suatu tujuan diperlukan kkerja sama dengan orang lain, nah bagaimana cara memerintahkan pada orang lain agar mau bekerja sama. Pada hakekatnya kegiatan manusia pada umumnya adalah managing ( mengatur ) untuk mengatur disini diperlukan suatu seni, bagaimana orang lain memerlukan pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama.
D. Manajemen Sebagai Suatu Profesi
Dalam jaman modern ini semua jenis kegiatan selalu harus dimanajemeni, dalam arti aturan yang jelas, dan sekarang boleh dikata bahwa bidang manajemen sudah merupakan suatu profesi bagi ahlinya. Mengapa demikian karena dalam kegiatan apapun pekerjaan harus dikerjakan secara efisien dan efektif, sehingga diperoleh masukan atau input yang besar.
Edgar H Schein dalam bukunya yang berjudul organization socialization and the profession of Managemen menguraikan karakteristik atau criteria-kriteria sesuatu bisa dijadikan suatu profesi yaitu :
1. Para professional membuat keputusan atas dasar prinsip-prinsip umum yang berlaku dalam situasi dan lingkungan, hal ini banyak ditunjang dengan banyaknya pendidikan-pendidikan yang tujuannya mendidik siswanya menjadi seorang professional. Misalnya Akademi Pendidikan Profesi Manajemen, kursus-kursus dan program-program latihan dan lain sebagainya.
2. Para profesioal memperoleh status dengan cara mencapai suatu standar prestasi kerja tertentu, ini tidak didasarkan pada keturunan, favoritas, suku bangsa, agama dam kriteria-kriteria lainnya.
Para professional harus ditentukan oleh suatu kode etik yang kuat.

Tingkatan Manajemen Dan Manajer
Manajemen digunakan dalam segala bentuk kegiatan baik kegiatan profesi maupun non profesi, baik organisasi pemerintah maupun swasta, maka manajer dapat diklasifikasi dalam dua cara yaitu tingkatan dalam organisasi dan lingkup kegiatan yang dilakukan.
Bila dilihat dari tingkatan dalam organisasi, manajemen dibagi menjadi tiga golongan yang berbeda yaitu :
1. Manajemen Lini : atau manajemen tingkat pertama yaitu tingkatan yang paling rendah dalam suatu organisasi, dimana seorang yang bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain, misalnya mandor atau pengawas produksi dalam suatu pabrik pengawas teknik suatu bagian riset dan lain sebagainya.
2. Manajemen menengah ( Midle Manager ) yaitu mencakup lebih dari satu tingkatan didalam organisasi.
3. Manajemen Puncak ( Top Manajer ) terdiri atas kelompok yang relatif kecil, yang bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi.
Manajer fungsional bertanggung jawab pada satu kegiatan organisasi, seperti produksi pemasaran, keuangan dan lain sebagainya, manajer umum membawahi unit yang lebih rumit misalnya sebuah perusahaan cabang atau bagian operasional yang independen yang bertanggung jawab atas semua kegiatan unit.
Ada dua fungsi utama atau keahlian ( skill ) yaitu keahlian teknik ( Teknical Skill ) dan keahlian manajerial ( Managerial Skill ). Keahlian teknik yaitu keahlian tentang bagaimana cara mengerjakan dan menghasilkan sesuatu yang terdiri atas pengarah dengan motivasi, supervisi dan komunikasi. Keahlian manajerial yaitu keahlian yang berkenan tentang hal penetapan tujuan perencanaan, pengorganisasian, penyusunan personalia dan pengawasan.

Fungsi-fungsi Manajemen
Fungsi manajemen menurut beberapa penulis antara lain :
1. Ernest Dale : Planning, Organizing, Staffing, Directing, Innovating, Representing dan Controlling.
2. Oey Liang Lee : Planning, Organizing, Directing, Coordinating, Controlling.
3. James Stoner : Planning, Organizing, Leading, Controlling.
4. Henry Fayol : Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling.
5. Lindal F. Urwich : Forescating, Planning, Organizing, Commanding, Cordinating, Controlling.
6. Dr. SP. Siagian MPA : Planning, Organizing, Motivating, Controlling.
7. Prayudi Atmosudirjo : Planning, Organizing, Directing/ Actuating, Controlling.
8. DR. Winardi SE : Planning, Organizing, Coordinating, Actuating, Leading, Communicating, Controlling.
9. The Liang Gie : Planning, Decision Making, Directing, Coordinating, Controlling, Improving.
Pada hakekatnya fungsi-fungsi di atas dapat dikombinasikan menjadi 10 fungsi yaitu :
1. Forecasting (ramalan) yaitu kegiatan meramalkan, memproyeksikan terhadap kemungkinan yang akan terjadi bila sesuatu dikerjakan.
2. Planning (perencanaan) yaitu penentuan serangkaian tindakan dan kegiatan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
3. Organizing (organisasi) yaitu pengelompokan kegiatan untuk mencapai tujuan, temasuk dalam hal ini penetapan susunan organisasi, tugas dan fungsinya.
4. Staffing atau Assembling Resources (penyusunan personalia) yaitu penyusunan personalia sejak dari penarikan tenaga kerja baru. latihan dan pengembangan sampai dengan usaha agar setiap petugas memberi daya guna maksimal pada organisasi.
5. Directing atau Commanding (pengarah atau mengkomando) yaitu usaha memberi bimbingan saran-saran dan perintah dalam pelaksanaan tugas masing-masing bawahan (delegasi wewenang) untuk dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
6. Leading yaitu pekerjaan manajer untuk meminta orang lain agar bertindak sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
7. Coordinating (koordinasi) yaitu menyelaraskan tugas atau pekerjaan agar tidak terjadi kekacauan dan saling melempar tanggung jawab dengan jalan menghubungkan, menyatu-padukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan.
8. Motivating (motivasi) yaitu pemberian semangat, inspirasi dan dorongan kepada bawahan agar mengerjakan kegiatan yang telah ditetapkan secara sukarela.
9. Controlling (pengawasan) yaitu penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan tujuan.
10. Reporting (pelaporan) yaitu penyampaian hasil kegiatan baik secara tertulis maupun lisan.

Proses pelaksanaan kegiatan manajemen, maka fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan. Ini adalah fungsi-fungsi ke dalam perusahaan, sedang fungsi manajer ke luar perusahaan adalah :
a) mewakili perusahaan dibidang pengadilan.
b) ambil bagian sebagai warga negara biasa.
c) mengadakan hubungan dengan unsur-unsur masyarakat.
Konsep-Konsep Manajemen Perusahaan
Dalam memanajemeni perusahaan, setiap keputusan dan tindakan seharusnya memberikan priotas pertama pada kebutuhan pokok, yaitu daya laba. Daya laba ini merupakan satu-satunya penentu pada kelangsungan hidup perusahaan. Beberapa hasil non-ekonomi akhir-akhir ini mendapat terlalu banyak perhatian, misalnya sumbangan terhadap kesejahteraan dan kebudayaan masyarakat, menyediakan ikatan kerja tetap pada gugus kerja, mempertahankan prestise atau nama baik di mata masyarakat dan sebagainya. Walaupun ini sama terpuji, namun demikian tidak ada gunanya bila perusahaan tidak dapat menambah kesejahteraan sendiri, sedang kesejahteraan masyarakat dan bangsa, hanya dapat dilayaninya dengan memperoleh laba untuk membayar gugus kerja dan pemegang saham dan membantu memberikan tambahan modal yang diperlukan untuk pertumbuhan.
Belakangan ini motif laba kurang dihargai bahkan di cemoohkan di beberapa daerah. Namun bila banyak perusahaan tidak dapat memperoleh laba maka secara ekonomi matilah suatu bangsa. bangsa itu jadi bergantung sebagian besar pada saudara-saudaranya yang lebih makmur. Banyak omong kosong yang ditulis dan diucapkan mengenai motif laba, karena kebodohan dan hipokrisi semata-mata. Tindakan semacam ini menunjukan ketidak mampuan orang memahami pentingnya keuntungan untuk pribadi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bangsa secara menyeluruh.
Manajemen mengalami kegagalan bila tidak dapat mewujudkan hasil ekonomi yang wajar. Ia gagal bila tidak dapat meningkatkan kemampuan untuk menciptakan kemakmuran yang dipercaya kepadanya. Disitulah terletak perbedaan antara seorang manajer dengan seorang politikus. Setiap tindakan dan setiap keputusan manjer pertama-tama mempertimbangkan kemajuan ekonomi yang akan dicapai. Bagi seorang politikus, prestasi ekonomi hanyalah salah satu dari sekian tujuan. Sedangkan bagi manajemen prestasi bisnis justru merupakan batu-uji terakhir.

Tugas-tugas dalam memanajemeni perusahaan dapat dikelompokkan secara luas menjadi empat.
1. Perencanaan
Perencanaan menetapkan ikhtisar operasi dan serangkaian kebijakan, program umum dan organisasi yang diperlukan. Perencanaan mencakup penentuan ukuran atas laba, penjualan, biaya, perlengkapan, bahan baku, teknik dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Perencanaan menetapkan target daya laba dan prestasi.
Segala proyek akan lancar bila dengan cermat direncanakan lebih dahulu. Perencanaan membantu pencapaian sasaran dan pekerjaan tidak akan dapat diserahkan secara bijak tanpa adanya semacam rencana. Tetapi dalam proses perencanaan harus ada kecermatan dan keluwesan. Para manajer harus siap mengubah rencana dengan segera bila mereka yakin bahwa ada perubahaan dasar yang terjadi di lingkungan bisnis mereka atau di pasar.
2. Pelaksanaan & Pengendalian
Rencana diimplementasikan dan sistem yang cocok diciptakan dan diterapkan untuk memeriksa prestasi terhadap rencana untuk mengendalikan dan memodifikasi operasi. Tujuannya adalah untuk mencapai prestasi yang memuaskan dan mencatat pengalaman dan informasi yang diperoleh, sebagai bahan untuk menyusun pedoman bagi perencanaan yang masa depan.
Bila rencana dilaksanakan maka prosedur pengendalian terentang mencakup operasi total. Mulai dari pengendalian yang dilakukan oleh Dewan Direksi, cakupan pengendalian itu meliputi operasi pemasaran (penjualan, kemajuan, laba yang diperoleh, target wiraniaga, pemasaran, pengendalian harga, pengendalian sediaan barang dan lain-lain) hingga ke operasi produksi (keluaran, pemanfaatan tenaga kerja, mesin dan bahan-bahan mentah, barang olahan, pengendalian mutu, biaya dan lain-lain) Bagian keuangan mengadakan pengendalian atas laba harta, biaya tenaga kerja, biaya bahan, biaya penjualan, biaya umum, biaya produksi (produk) dan lain-lain. Personalia berkaitan dengan penilaian manajemen, pengharkatan pekerja, pengharkatan bajik, pemanfaatan tenaga kerja, perekrutan tenaga kerja dan manajemen seterusnya.

3. Motivasi
Motivasi menyangkut usaha memperkeras dorongan kerja semua anggota organisasi dan menemukan cara-cara untuk meningkatkan prestasi individual. Prestasi harus diberi imbalan. Imbalan ini bisa beraneka ragam bentuknya, bergantung pada pilihan perusahaan, mulai dari tepukan tangan hingga pada promosi jabatan atau penambahan tunjangan (uang). Dengan demikian gugus kerja setiap perusahaan baik secara individual maupun bersama-sama tergerak untuk lebih berprestasi lagi.

4. Koordinasi
Fungsi koordinasi manajemen, fungsi ini mengusahakan agar setiap bagian perusahaan bekerjasama menurut rencana dan menjamin bahwa seluruh tim tetap bekerjasama. Fungsi ini menyeimbangkan kebutuhan atau kepentingan departemen yang berbeda-beda dan bertentangan. Bagian pemasaran bersangkutan dengan usaha memaksimumkan laba, bagian produksi bersangkutan dengan usaha mencapai beban produksi optimum dengan biaya minimum. Kedua faktor yang pertama tadi biasanya tidak sejalan, dan diperlukan kaitan yang menciptakan keseimbangan untuk mencapai hasil yang paling baik bagi kedua belah pihak dan bagi perusahaan sabagai keseluruhan. Fungsi manajemen yang satu ini seringkali merupakan fungsi yang paling sulit diimplementasikan.
Manajemen berdasarkan sasaran (MBS) adalah salah satu diantara sekian “jargon manajemen” yang paling baru. Manajemen berdasarkan sasaran ini diterangkan secara amat terperinci dalam buku-buku John Humble Improving Management Performance (British Institute of Management, 1966). Penggunaan MBS yang penerapannya dan pengendaliannya tepat akan menimbulkan rancangan disiplin ke arah laba dan pertumbuhan pada umumnya di semua sektor bisnis yang penting. Rancangan ini membantu mewujudkan keseimbangan di antara tujuan jangka panjang dan jangka pendek, sesuatu yang tidak mudah dilakukan karena keduanya seringkali bertentangan mulai dari hal pemanfaatan harta. Tekanan yang berlebihan atas sasaran jangka pendek seringkali berarti bahwa perusahaan tidak dapat berkembang ke arah sasaran jangka panjang. Kedua rancangan ini membantu perusahaan memanfaatkan sumber daya tenaga eksekutif dengan lebih baik. Tim manajemen mengembangkan kemampuan yang lebih besar dalam menghadapi perubahan yang mempengaruhi bisnis.
Penyelenggaraan MBS membantu perusahaan memusatkan segalanya di bidang-bidang yang memerlukan efektivitas optimal manajemen sebagai unsur vital, dan memisahkan masalah–masalah yang menghalangi kemajuan ke arah sasaran perusahaan tersendiri. Realisme yang lebih besar disuntikkan pada perencanaan yang susul-menyusul dan menghasilkan informasi pengendalian yang lebih baik dan terpercaya sebagai dasar keputusan. Akhirnya MBS dapat membina pengertian yang lebih baik dari antara para anggota tim atas peranan khusus masing-masing.
Peranan Dewan Direksi, perincian kegiatan Dewan Direksi berbeda-beda, tetapi pada umumnya terbagi empat kategori. Pertama, Dewan Direksi menentukan dan menyepakati rencana perusahaan jangka panjang dan semua kebijakan pokok, serta memilah bidang-bidang kegiatan perusahaan pada umumnya. Keputusan mereka tergantung pada informasi yang disampaikan oleh bagian-bagian yang beroperasi. Kedua, Dewan Direksi sepakat dan menyelenggarakan pengendalian menyeluruh atas rencana operasi atau usaha-usaha tahunan. Ketiga, Dewan Direksi menyepakati dan mengendalikan pengeluaran modal untuk investasi dan pemanfaatan segala harta yang dipercayakan pada perusahaan oleh para penanam modal. Keempat, Dewan Direksi memilih para manajer yang paling senior dan menetapkan imbalan jasa dan syarat-syarat kerjanya.
Tujuan perusahaan pada umumnya ialah untuk memuaskan kebutuhan dari konsumen dengan nilai-nilai tertentu. Tujuan perusahaan dapat digolongkan sebagai berikut :
• Tujuan Pelayanan Primer
Tujuan primer adalah pembuatan barang/jasa yang dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Tujuan Organisatoris adalah nilai-nilai yang harus disumbangkan oleh masing-masing atau kelompok individu yang berada pada bagian yang bersangkutan. Tujuan Operasional adalah nilai-nilai yang disumbangkan oleh masing-masing tahap dalam suatu unit prosedur kerja secara keseluruhan.
• Tujuan Pelayanan Kolateral
Tujuan Kolateral Pribadi adalah nilai-nilai yang ingin dicapai oleh individu atau kelompok individu dalam perusahaan. Tujuan Kolateral Sosial ialah nilai-nilai ekonomi yang lebih luas/umum yang diperlukan bagi kesejahteraan masyarakat dan yang dapat secara langsung dihasilkan dari kegiatan perusahaan.
Tujuan Kolateral Sosial bersifat lebih luas untuk kepentingan masyarakat, misalkan : membayar pajak.
• Tujuan Pelayanan Sekunder
Merupakan nilai-nilai yang diperlukan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan primer.
Tetapi secara umum, tujuan perusahaan dapat berupa :
a. mencapai keuntungan maksimal
b. mempertahankan kelangsungan hidup
c. mengejar pertumbuhan
d. menampung tenaga kerja

Faktor-faktor produksi “5M” (Men, Materials, Machines, Methods, Money).Manajemen adalah : “Suatu proses yang khas, yang terdiri atas kegiatan-kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya yang lain.”
Manajemen juga menggunakan metode ilmiah yang meliputi urutan kegiatan sebagai berikut :
1. mengetahui adanya persoalan
2. mendefinisikan persoalan
3. mengumpulkan fakta, data dan informasi
4. menyusun alternatif penyelesaian
5. mengambil keputusan dengan memilih salah satu alternatif penyelesaian
6. melaksanakan keputusan serta tindak lanjut Baca selengkapnya →

Metode Penelitian Pendidikan

Published November 26, 2011 by eliclalahi

PROPOSAL
PENANAMAN PENDIDIKAN BERKARAKTER SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN MORAL PADA SISWA KELAS X 7 di SMA N 4 TEGAL

 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pribadi sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia dalam ukuran normatif. Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan zaman yang berkembang. Sedangkan menurut Ary H.Gunawan berpendapat bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi, yaitu sosialisasi nilai, pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Oleh karenanya, pendidikan senyatanya harus mampu menjawab persoalan-persoalan yang berada di tengah masyarakat. Baca selengkapnya →

Metode Penelitian Kualitatif

Published November 26, 2011 by eliclalahi

PROPOSAL
Nama : Eli Nova Silalahi
NIM : 3401409029
JUDUL
“HUBUNGAN POLA ASUH KELUARGA TERHADAP KECENDERUNGAN KENAKALAN REMAJA di SMA N 4 TEGAL”
LATAR BELAKANG
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang, masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang. Dewasa ini sering terjadi seorang anak digolongkan delinkuen jika pada anak tersebut Nampak adanya kecendrungan-kecendrungan anti sosial yang sangat memuncak sehingga perbuatan-perbuatan tersebut menimbulkan gangguan-gangguan terhadap keamanan, ketentraman dan keterlibatan masyarakat, misalnya pencurian, pembunuhan, penganiayaan, pemerasan, penipuan, penggelapan dan gelandangan serta perbuatan perbuatan lain yang dilakukan oleh anak remaja yang meresahkan masyarakat ( Sudarsono, 2004 : 114).

Hampir setiap hari kasus kenakalan remaja selalu kita temukan di media massa, dimana sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Salah satu wujud dari kenakalan remaja adalah tawuran yang dilakukan oleh para pelajar. Dalam fase ini, orangtua sangat berperan dalam mengawasi anak-anaknya dalam bergaul dan menuntun dalan menjalani hidup supaya tidak salah bergaul dengan teman-teman yang dapat menjerumuskan anak. Keluarga merupakan hal terpenting bagi anak karena sebagai pedoman dalam hidup. Bila keluarga sendiri mempunyai problematika yang serius, bagaimana anak bias bersandar pada keluarga di saat punya masalah ? Keluarga yang bermasalah tidak akan mengajarkan mengenai keakraban dan tali darah yang ada.

Namun kasih sayang orangtua yang berlebihan bagi anak malah akan membuat anak remaja menjadi anak yang manja. Seringkali dikarenakan anak tersebut merupakan anak tunggal atau karena kurangnya perhatian yang didapat oleh orangtuanya dulu sehingga dipuaskan kepada anak. Juga dapat dikarenakan oleh rasa bersalah orangtua kepada anak yang disebabkan orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaannya atau over active ataupun penyebab lainnya.

Pengendalian untuk kenakalan remaja dapat dilakukan dengan bersifat preventif dan bersifat represif. Anak-anak perlu ditanamkan sikap disiplin oleh orangtua, diberiakan kasih sayang dan rasa keamanan bagi anak. Orangtua dapat menjadi sahabat bagi anaknya.

Berdasarkan pengamatan dan informasi dari guru bimbingan dan konseling SMA Negeri 4 Tegal bahwa dari siswa-siswi yang sering melakukan kenakalan di lingkungan sekolah. Sebagian mengatakan bahwa dalam lingkungan keluarganya terutama hubungan antara anak dan orangtua, ia harus mematuhi aturan-aturan yang diterapkan oleh orangtuanya, penentuan masa depan, pilihan sekolah, waktu belajar, sampai pada pilihan teman bergaul. Selanjutnya sebagian siswa menyatakan bahwa selama ini orangtuanya tidak terlalu menggubris dirinya. Ia bebas menentukan apa yang dia mau. Orangtua tidak memberikan tuntutan apapun kepada mereka, bahkan ada yang mengatakan bahwa orangtuanya selalu memenuhi apapun yang ia minta tanpa melihat sejauh mana nilai kepentingannya terhadap kehidupan remaja. Rata-rata dari mereka orangtuanya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Bahkan ada orangtua yang tidak peduli sama sekali dengan keberadaan dirinya.mendapat perlakuan semacam ini ada sebagian yang menyatakan bahwa ia merasa menjadi anak yang tidak diperhatikan oleh orangtuanya, sehingga ia lebih sering berada di luar rumah untuk menghabiskan waktunya dengan teman-teman.

Dari paparan di atas dapat dilihat bahwa hamper mayoritas siswa-siswi menunjukkan mereka diasuh dengan gayapengasuhan yang otoriter dan permisif. Berdasarkan hasil penelitian Balatbangos Depsos tahun 2004, bahwa pola asuh yang dominan menurut remaja adalah pola asuh otoriter (83,33 %), disusul dengan pola asuh permisif dan demokratis masing-masing terdapat 90% keluarga yang kurang demokratis dalam menerapkan pola asuh terhadap anak. Hal ini akan menciptakan iklim yang yang kurang kondusif bagi perkembangan anak. Sejalan dengan pola asuh tersebut dapay dicermati lebih jauh dasar pemikiran dan tindakan orangtua dalam mengasuh anak-anaknya. Pola asuh yang demokratis akan bertindak lebih rasional dengan persentase yang kebetulan sama yaitu 33,33%. Demikian pula dengan pola yang tidak demokratis yang mempunyai persentase yang relative sama dengan kategori tindakan yang tidak rasional yaitu 90%.

Berdasarkan latar belakangt tersebut maka saya tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Hubungan Pola Asuh Keluarga terhadap Kecenderungan Kenakalan Remaja di SMA N 4 Tegal “.

RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :
Apakah ada hubungan pola asuh otoriter terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?
Apakah ada hubungan pola asuh permisif terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?
Apakah ada hubungan pola asuh demokratis terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?

TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian adalah :
Untuk mengetahui hubungan pola asuh otoriter terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?
Untuk mengetahui hubungan pola asuh permisif terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?
Untuk mengetahui hubungan pola asuh demokratis terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?

MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan tujuan di atas, maka hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
Secara teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi wahana perkembangan ilmu sosial yang berhubungan dengan kenakalan remaja dan menambah pengetahuan dan wawasan serta sebagai wahana latihan penerapan ilmu sosial dalam kehidupan nyata.
Secara praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi orangtua siswa dan sekolah mengenai tingkat kenakalan remaja yang terjadi di daerahnya

TINJAUAN PUSTAKA
Pola Asuh Keluarga
Definisi Pola Asuh
Pola Asuh adalah suatu proses belajar dengan melepas hal-hal yang belum dimiliki dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan yang baru untuk mencapai tujuan hidup dan kerja yang sedang dijalani secara lebih efektif (Mangunhardjana 1988:11).

Macam-macam Pola Asuh
Pola Asuh dalam keluarga ada 3 macam yaitu :
1). Pola Asuh Otoriter
Pola Otoriter adalah suatu tenaga yang dipaksakan dari luar (Spock 1992:265). Jadi pola ini memerlukan aturan yang ditunjukan pada anak dan anak akan mematuhi sepanjang ada yang mengawasi.

Dalam pola ini kebebasan anak sangat dibatasi, anak harus melakukan apa yang diinginkan ibu dan biasanya apabila anak melanggar aturan, anak akan dihukum, namun bila anak sudah melakukan sesuatu seperti kehendak ibu maka ibu tidak akan member hadiah karena sudah dianggap wajar. Akibat yang timbul dari pelaksanaan Pola Asuh ini adalah anak akan menjadi takut, tidak mempunyai inisiatif dan kreatifitas, kemandirian hilang, timbul rasa rendah diri, rasa bodoh, tertekan jiwanya dan timbul rasa kecewa pada anak (Tim Penggerak PKK pusat 1995:29).
2). Pola Asuh Permisif
Dalam pola liberal keluarga begitu bebas dan kebebasan yang diberikan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa meminta pertimbangan kepada ibunya. Anak merasa tidak ada pegangan tertentu sehingga anak tidak tahu perilaku yang benar atau salah dan bertindak sehendak dirinya sendiri.

Pola ini ditandai dengan adanya aturan yang memberikan kebebasan penuh kepada anak untuk berbuat sekehendak hatinya, berbuat serba boleh. Orangtua selalu membenarkan atau malah tidak peduli terhadap kelakuan anak sehingga dengan demikian ibu tidak pernah menghukum anaknya. Orangtua kurang berfungsi dalam mengontrol sikap anak serta adanya kekuasaan dan kehendak anak yang dominan.

Pola Asuh Demokratis
Pola Asuh ini memandang anaksebaga individu yang sedang berkembang. Oleh karena itu harus bersikap terbuka terhadap anak. Antara lain ibu membuat aturan-aturan yang disepakati bersama, diberikan kebebasan mengemukakan pendapat orang lain.

Pola Asuh Demokratis ini menempatkan anak pada posisi yang sama dengan mereka (orangtua), dalam arti hak dan kewajibannya dalam keluarga. Anak selalu diajak untuk mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapkan di keluarga terutama yang menyangkut masalah anak itu sendiri. Aturan ibu dan anak terbuka, saling memberi dan berusaha mengontrol dan mendorong serta membimbing anak agar dapat hidup secara mandiri.

Kecendrungan Kenakalan Remaja
Definisi Kenakalan Remaja
Sarwono (2002) mengungkapkan kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana, Santrock (1999) juga menambahkan kenakalan remaja sebagai kumpulan dari berbagai perilaku, dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial sampai tindakan kriminal.

Bentuk dan Aspek Kenakalan Remaja
Menurut Kartono (2003), bentuk-bentuk perilaku kenakalan remaja dibagi menjadi 4 :
Kenakalan terisolir
Kelompok ini merupakan jumlah terbesar dari remaja nakal. Pada umumnya mereka tidak menderita kerusakan psikologis. Perbuatan nakal anak didorong oleh faktor-faktor berikut :
Keinginan meniru dan ingin conform dengan gangnya jadi tidak ada motivasi, kecemasan atau konflik batinnya yang tidak dapat diselesaikan.
Kelompok ini kebanyakan berasal dari daerah kota yang transisional yang sifatnya memiliki subkultur kriminal.
Pada umumnya remaja berasal dari keluarga berantakan, tidak harmonis, dan mengalami banyak frustasi sebagai jalan keluarnya remaja memuaskan semua kebutuhan dasarnya di tengah lingkungan kriminal. Gang remaja nakal memberikan alternative hidup yang menyenangkan.
Remaja dibesarkan dalam keluarga tanpa atau sedikit mendapatkan supervise dan latihan kedisiplinan yang teratur, sebagai akibatnya dia tidak sangggup menginternalisasikan norma hidup normal. Hal ini disebabkan oleh proses pendewasaan dirinya sebagai orang dewasa yang mulai memasuki peran sosial yang baru.

Kenakalan Neurotik
Pada umumnya remaja nakal tipe ini menderita gangguan kejiwaan yang cukup serius, antara lain berupa kecemasan, merasa selalu tidak aman, merasa bersalah batinnya dan berdosa dan lain-lain. Ciri-ciri perilakunya adalah :
Perilaku nakalnya bersumber dari sebab-sebab psikologis yang sangat dalam, bukan hanya berupa adaptasi pasif menerima nilai subkultur gang yang kriminal itu saja.
Perilaku kriminal remaja merupakan ekspresi dari konflik batin yang belum terselesaikan karena perilaku jahat remaja merupakan alat pelepas ketakutan, kecemasan dan kebingungan.
Biasanya remaja ini melakukan kejahatan seorang diri dan mempraktekkan jenis kejahatan itu, misalnya suka memperkosa kemudian membunuh korbannya, kriminal ini sekaligus neurotik.
Remaja nakal ini banyak yang berasal dari kalangan menengah namun pada umumnya keluarg mereka mengalami banyak ketegangan emosional yang parah dan orangtuanya biasanya juga neurotik atau psikotik.
Remaja memiliki ego yang lemah, dan cenderung mengisolir diri dari lingkungannya.
Motif kejahatannya berbeda-beda.
Perilakunya menunjukkan kualitas paksaan.

Kenakalan Psikotik
Kenakalan ini sedikit jumlahnya, akan tetapi dilihat dari kelompok umum dan segi keamanan, mereka merupakan oknum kriminal yang paling berbahaya. Ciri-cirinya adalah :
Hampir seluruh remaja kenakalan ini berasal dan dibesarkan dari lingkungan keluarga yang ekstrim, brutal, diliputi banyak pertikaian keluarga, berdisiplin keras namun tidak konsisten dan orangtuanya selalu menyia-nyiakan mereka, sehingga mereka tidak mempunyai kapasitas untuk menambahkan afeksi dan tidak mampu menjalin hubungan emosional yang akrab dan baik dengan orang lain.
Tidak mampu menyadari arti bersalah, berdosa atau melakukan pelanggaran.
Bentuk kejahatan majemuk, tergantung pada suasana hatinya yang kacau dan tidak dapat diduga. Pada umumnya sangat agresif dan implusif. Biasanya mereka berulang kali masuk penjara dan sulit sekali diperbaiki.
Anak selalu gagal dalam menyadari dan menginternalisasikan norma-norma sosial yang umum berlaku juga tidak peduli terhadap norma subkultur gang nya sendiri.
Kebanyakan dari remaja juga menderita gangguan neurologis sehingga mengurangi kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri.

Kenakalan defek moral
Defek artinya rusak, tidak lengkap, salah, cedera, cacat, kurang. Kenakalan ini mempunyai ciri : selalu melakukan tindakan anti sosial walaupun pada dirinya tidak terdapat penyimpangan, namun ada disfungsi pada intelegensinya.

Kelemahan para remaja kenakalan ini adalah tidak mampu mengenal dan memahami tingkah laku yang jahat, juga tidak mampu mengendalikan dan mengatur, selalu ingin melakukan perbuatan kekerasan, penyerangan dan kejahatan. Rasa kemanusiannya sangat terganggu, sikapnya sangat dingin tanpa afeksi. Jadi ada kemiskinan afektif dan sterilitas emosional.

Karakteristik Remaja Nakal
Menurut Kartono (2003), remaja nakal itu mempunyai karakteristik umum yang sangat berbeda dengan remaja tidak nakal. Perbedaan itu mencakup:
1). Perbedaan struktur intelektual
Pada umumnya inteligensi mereka tidak berbeda dengan inteligensi remaja yang normal, namun jelas terdapat fungsi- fungsi kognitif khusus yang berbeda biasanya remaja nakal ini mendapatkan nilai lebih tinggi untuk tugas-tugas prestasi daripada nilai untuk ketrampilan verbal (tes Wechsler). Mereka kurang toleran terhadap hal-hal yang ambigius biasanya mereka kurang mampu memperhitungkan tingkah laku orang lain bahkan tidak menghargai pribadi lain dan menganggap orang lain sebagai cerminan dari diri sendiri.

2). Perbedaan fisik dan psikis
Remaja yang nakal ini lebih “idiot secara moral” dan memiliki perbedaan ciri karakteristik yang jasmaniah sejak lahir jika dibandingkan dengan remaja normal. Bentuk tubuh mereka lebih kekar, berotot,kuat,dan pada umumnya bersikap lebih agresif. Hasil penelitian juga menunjukkan ditemukannya fungsi pisiologis dan neurologis yang khas pada remaja nakal ini, yaitu: mereka kurang bereaksi terhadap stimulus kesakitan dan menunjukkan ketidakmatangan jasmaniah atau anomaly perkembangan tertentu. Ciri karakteristik individual remaja yang nakal ini mempunyai sifat kepribadian khusus yang menyimpang , seperti:
Rata-rata remaja nakal ini hanya berorientasi pada masa sekarang,
bersenang-senang dan puas pada hari ini tanpa memikirkan masa
depan.
Kebanyakan dari mereka terganggu secara emosional.
Mereka kurang bersosialisasi dengan masyarakat normal, sehingga tidak mampu mengenal norma norma kesusilaan, dan tidak bertanggung jawab secara sosial.
Mereka senang menceburkan diri dalam kegiatan tanpa berpikir yang merangsang rasa kejantanan, walaupun mereka menyadari besarnya risiko dan bahaya yang terkandung di dalamnya.
Pada umumnya mereka sangat impulsif dan suka tantangan dan bahaya.
Hati nurani tidak atau kurang lancar fungsinya.
Kurang memiliki disiplin diri dan kontrol diri sehingga mereka menjadi liar dan jahat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja nakal biasanya
berbeda dengan remaja yang tidak nakal. Remaja nakal biasanya lebih
ambivalen terhadap otoritas, percaya diri, pemberontak, mempunyai control diri yang kurang, tidak mempunyai orientasi pada masa depan dan kurangnya kemasakan sosial, sehingga sulit bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.
Faktor- faktor Penyebab Kecenderungan Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja muncul karena beberapa aspek sebab baik salah satu maupun bersamaan sehubungan dengan banyaknya factor yang menyebabkan kenakalan remaja maka mempermudah pembahasan penulis mengelompokkan menjadi 2 yaitu :
Faktor intern
Adalah satu hal yang menyebabkan remaja bertingkah laku tertentu yang dating dari dirinya sendiri (Kartono 1986 :122). Adapun factor-faktor penyebab kenakalan remaja yang datang dari dirinya adalah :
Frustasi negatife yang dimasukkan dalam adaptasi yang salah terhadap tuntutan zaman yang serba kompleks sekarang ini. Anak menjadi salah bertindak dan bertingkah laku bahkan menjadi agresif, ugal-ugalan, liar dan selalu menginginkan jalur kekerasan.
Gangguan tanggapan dan pengamatan pada remaja yang keliru dan salah atas kenyataan yang ada sehingga timbul interpretasi yang keliru dan salah akibat jauhnya remaja menjadi agresif menghadapi tekanan-tekanan bahaya yang timbul sehingga anak menjadi liar, cepat marah dan selalu mencari jalan kekerasan.
Gangguan berfikir dan intelegensi pada diri kalangan remaja dewasa jiwanya terganggu akan memperalat fikirannya untuk membela dan membenarkan gambaran-gambaran semu dan tanggapan-tanggapan salah. Akibatnya reaksi dan tingkah laku anak menjadi salah, bisa liar dan selalu mencari jalan kekerasan.
Gangguan emosional atau perasaan pada remaja jika keinginan dan kebutuhan tidak terpenuhi maka remaja ini akan cenderung frustasi, yang bias disebabkan oleh perlakuan orangtuanya.
Faktor ekstern
Adanya tindak kenakalan remaja adalah semua pereangsang dan pengaruh dari luar yang menimbulkan tingkah laku tertentu pada anak remaja (Kartono 1998:111). Faktor ini disebut juga factor sosial yang dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :
Lingkungan keluarga
Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang perananya besar sekali dalam perkembanagn sosial, terlebih pada awal-awal perkembangan kepribadian . Adanya perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
Lingkungan sekolah
Meskipun sekolah merupakan lembaga pendidikan dimana situasinya berisikan pendidikan, namun tidak jarang menimbulkan kenakalan karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya dan berinteraksinya antara anak remaja yang berbeda.
Lingkungan sosial masyarakat
Dalam pengertian ini dibatasi pada lingkungan dimana kalangan remaja tinggal dalam pergaulan masyarakat terjadi interaksi beranekaragam kepribadian dan pandangan hidup. Hali ini sangat mempengaruhi sikap dan tingkah laku remaja.

Remaja
Definisi Remaja
WHO (dalam Sarwono, 2002) mendefinisikan remaja lebih bersifat konseptual, ada 3 kriteria yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi dengan batasan usia antara 10-20 tahun yang secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut :
Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual.
Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relative lebih mandiri.

Monks (1999) sendiri memberikan batasan usia masa remaja adalah masa diantara 12 sampai 21 tahun dengan perincian 12 sampai 15 tahun masa remaja awal, 15 sampai 18 masa remaja pertengahan, dan 18 sampai 21 tahun masa remaja akhir.

Ciri-Ciri Remaja
Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan yang dialami oleh setiap individu, sebagai masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa ini memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode perkembangan yang lain. Ciri yang menonjol pada masa ini adalah individu mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang amat pesat, baik fisik,emosional dan sosial. Hurlock (1999) pada masa remaja ini ada beberapaperubahan yang bersifat universal, yaitu meningkatnya emosi, perubahan fisik, perubahan terhadap minat dan peran, perubahan pola perilaku,nilai-nilai dan sikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Berikut ini dijelaskan satu persatu dari ciri-ciri perubahan yang terjadi pada masa remaja.

Perubahan fisik
Perubahan fisik berhubungan dengan aspek anotomi dan aspek fisiologis,dimasa remaja kelenjar hipofesa menjadi masak dan mengeluarkan beberapa hormon, seperti hormone gonotrop yang berfungsi untuk mempercepat kemasakan sel telur dan sperma, serta mempengaruhi produksi hormone kortikortop berfungsi mempengaruhi kelenjar suprenalis, testosterone,oestrogen, dan suprenalis yang mempengaruhi pertumbuhan anak sehingga terjadi percepatan pertumbuhan (Monks dkk, 1999). Dampak dari produksi hormon tersebut Atwater, (1992) adalah: (1) ukuran otot bertambah dan semakin kuat. (2) testosteron menghasilkan sperma dan oestrogen memproduksi sel telur sebagai tanda kemasakan. (3) Munculnya tanda-tanda kelamin sekunder seperti membesarnya payudara, berubahnya suara, ejakulasi pertama, tumbuhnya rambut rambut halus disekitar kemaluan, ketiak dan muka.

PerubahanEmosional
Pola emosi pada masa remaja sama dengan pola emosi pada masa kanak-kanak.Pola-pola emosi itu berupa marah, takut, cemburu, ingin tahu, irihati, gembira, sedih dan kasih sayang. Perbedaan terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan pengendalian dalam mengekspresikan emosi.

Remaja umumnya memiliki kondisi emosi yang labil pengalaman emosi yangekstrem dan selalu merasa mendapatkan tekanan (Hurlock, 1999). Bila pada akhir masa remaja mampu menahan diri untuk tidak mengeksperesikan emosi secara ekstrem dan mampu memgekspresikan emosi secara tepat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan dan dengan cara yang dapat diterima masyarakat, dengan kata lain remaja yang mencapai kematangan emosi akan memberikan reaksi emosi yang stabil (Hurlock,1999). Nuryoto(1992) menyebutkan ciri-ciri kematangan emosi pada masa remaja yang ditandai dengan sikap sebagai berikut: (1) tidak bersikap kekanak-kanakan.(2)bersikap rasional. (3) bersikap objektif (4) dapat menerima kritikan orang lain
sebagai pedoman untuk bertindak lebih lanjut. (5) bertanggung jawab terhadaptindakan yang dilakukan. (6) mampu menghadapi masalah dan tantangan yang dihadapi.

Perubahaan sosial
Perubahan fisik dan emosi pada masa remaja juga mengakibatkan perubahan dan perkembangan remaja, Monks, dkk (1999) menyebutkan dua bentuk perkembangan remaja yaitu, memisahkan diri dari orangtua dan menuju ke arah teman sebaya.Remaja berusaha melepaskan diri dari otoritas orang tua dengan maksud menemukan jati diri. Remaja lebih banyak berada diluar rumah dan berkumpul bersama teman sebayanya dengan membentuk kelompok dan mengeksperesikan segala potensi yang dimiliki.Kondisi ini membuat remaja sangat rentan terhadap pengaruh teman dalam hal minat, sikap penampilan dan perilaku. Perubahan yang paling menonjol adalah hubungan heteroseksual. Remaja akan memperlihatkan perubahan radikal dari tidak menyukai lawan jenis menjadi lebih menyukai. Remaja ingin diterima,diperhatikan dan dicintai oleh lawan jenis dan kelompoknya.

Hubungan Pola Asuh Keluarga terhadap Kenakalan Remaja
Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya remaja. Secara ideal perkembangan anak remaja akan optimal apabila mereka bersama keluarganya yang harmonis, sehingga berbagai kebutuhan yang diperlukan dapat terpenuhi.

Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari tidak semua keluarga dapat memenuhi gambaran keluarga yang ideal tersebut. dalam kaitannya dengan permasalahan remaja, rintangan perkembangan remaja menuju kedewasaan itu ditentukan oleh factor-faktor yang mempengaruhi anak pada waktu kecil di lingkungan masyarakat.

Dari penelitian Anita S (2006), meyebutkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan kecenderungan perilaku agresi pada remaja melakukan kenakalan remaja. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan itu kecenderungan perilaku agresi pada remaja tergolong rendah. Penelitian lain, Ariani Ni Putu (2004) menyebutkan pola asuh keluarga sangat berhubungan dengan perilaku remaja merokok, agresif, dan seksual.

KERANGKA BERFIKIR

Anak adalah anggota penting dalam sebuah keluarga. Kehadiran seorang anak sangat dinantikan, ketika seorang anak hadir di tengah keluarga tentu orangtua senang sekali dan akan menyayangi sepenuh hati, kasih sayang dari orangtua adalah sebuah kebutuhan yang harus didapat oleh anak.

Pada masa remaja terutama remaja awal merupakan fase dimana teman sebaya sangat penting bagi remaja. Idealism sangat kuat dan identitas diri mulai terbentuk dengan emosi yang labil, jika seorang remaja tidak bias mengendalikan dirinya maka seringkali remaja melakukan penyimpangan.

Kenakalan remaja dipemgaruhi oleh banyak factor, antara lain pola asuh keluarga. Pola asuh yang salah dapat mengakibatkan anak terjerumus ke hal yang tidak baik. Brown (1961:76) mengatakan bahwa keluarga adalah lingkungan yang pertama kali menerima kehadiran anak. Jadi dalam hal ini pola asuh keluarga sangat besar dalam membentuk pribadi dan sikap seorang anak.

Pola asuh sendiri adalah suatu proses belajar dengan melepas hal-hal yang dan kecakapan yang baru untuk mencapai tujuan hidup dan kerja yang sedang djalani secara lebih efektif (Mangunhardjana 1998:11).
Pola asuh keluarga ada 3 macam diantaranya adalah :
Pola Otoriter
Pola Permisif
Pola Demokratis

HIPOTESIS
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dipaparkan di atas. Maka menjadikan hipotesis penelitian sebagai berikut :
H1 = Ada pengaruh Pola Asuh Otoriter terhadap Kenakalan Remaja
H2= Ada pengaruh Pola Asuh Permisif terhadap Kenakalan Remaja
H3= Ada pengaruh Pola Asuh Demokratis terhadap Kenakalan Remaja

METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasi. Penelitian korelasi adalah penelitian bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel. Dalam hal ini menggambarkan hubungan antara pola asuh orangtua dengan kecenderungan kenakalan remaja.

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel Penelitian
Menurut Arikunto (2002:98) variabel penelitian adalah objek yang menjadi titik perhatian semua penelitian.
Identifikasi variabel
Variabel penelitian dalam penelitian ini adalah :
Variabel bebas yaitu variabel yang diasumsikan menjadi penyebab munculnya variabel lain. Dalam penelian ini variabel bebas adalah pola asuh keluarga.
Variabel terikat yaitu variabel yang kemunculannya disebabkan oleh variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikat adalah kecenderungan kenakalan remaja.
Definisi Operasional
Pola Asuh
Pola asuh keluarga didefinisikan sebagai segala bentuk tingkah laku orangtua dalam berinteraksi dengan anaknya sehari-hari dalam rangka membimbing, mendidik, mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang menjadi tujuan hidup keluarga. Secara operasional gaya pengasuhan orangtua didefinisikan sebagai bentuk-bentuk tingkah laku orangtua yang diterima oleh anak selama ini.
Pola asuh keluarga ada 3 macam yaitu
Pola otoriter, indikatornya :
Mengatur jam belajar anak
Menyuruh anak dengan memaksa
Membelikan barang tanpa bertanya kepada anak
Tidak segan-segan memukul anak
Tidak pernah memberikan pujian
Pola Permisif, indikatornya :
Memberikan kebebasan pada anak tanpa batasan
Tidak pernah memberikan hadiah kepada anak
Tidak pernah memberikan hukuman kepada anak
Orangtua hanya berperan sebagai pemberi fasilitas
Bersikap masa bodo terhadap perilaku anak
Pola Demokratis, indikatornya :
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengutarakan pendapat
Pemberian hukuman akibat perilaku yang salah
Memberi masukan nilai-nilai positif kepada anak
Melatih anak berpikir dan bertanggung jawab

Untuk menilai pernyataan-pernyataan tersebut digunakan skala likert dengan ketentuan jawaban sebagai berikut :
Tidak pernah (TP) = Skor 1
Kadang-kadang (KD) = Skor 2
Sering (SR) = Skor 3
Selalu (SL) = Skor 4

Kecenderungan Kenakalan Remaja
Adalah kecenderungan remaja melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Adapun indicator untuk mengukur kecenderungan kenakalan remaja dalam penelitian ini adalah :
Membolos
Menyontek
Terlambat
Berkelahi
Berbohong
Main HP di kelas
Seks bebas
Mencuri
Untuk mengukur kecenderungan kenakalan remaja digunakan skala likert dengan ketentuan jawaban sebagai berikut :
Sangat setuju (SS) = Skor 1
Setuju (S) = skor 2
Tidak setuju (TS) = skor 3
Sangat tidak setuju (STS)= Skor 4

Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini sekaligus menjadi sampel penelitian yaitu seluruh siswa SMA N 4 Tegal sebanyak 260 orang dan 260 orangtua siswa, orangtua siswa disini yang dimaksud adalah ayah karena di dalam setiap keluarga yang menentukan pola asuh yang digunakan adalah ayah sebagai kepala keluarga.

METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah proses pencatatan pola perilaku subjek (orang), objek (benda) atau kejadian yang sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti. Alasan peneliti menggunakan metode dokumentasi karena metode ini dapat menghasilkan data yang telah rinci mengenai kondisi siswa-siswi SMA N 4 Tegal. Dokumentasi digunakan untuk mendukung data primer dan mengetahui keadaan yang ada.

Teknik Kuesioner (angket)
Teknik ini adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui (Arikunto,2002:128). Kuosioner atau daftar pertanyaan digunakan dalam penelitian ini bersifat tertutup jadi sudah disiapkan alternative jawaban. Responden hanya memilih alternative jawaban tersebut sesuai dengan kenyataan.

Uji Validitas dan Realibilitas
Validitas
Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat atau dengan kata lain sebuah instrumen dikatakan valid apabila benar-benar dapat dijadikan sebagai alat untuk mengukur apa yang akan diukur.

Secara sistematis uji validitas dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut : (Arikunto 2002:146)

rxy = (NΣXY-(ΣX)(ΣY))/√({NΣX^2- (ΣX)^2 } {NΣY^2- (ΣY)^2})

Keterangan :
Rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan Y
N = jumlah subjek
ΣX = jumlah skor total item X
ΣY= jumlah skor total item Y
Reliabilitas
Instrument sebagai alat pengukur data harus reliable, artinya bahwa instrument tersebut cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument sudah baik. Untuk melakukan uji realibilitas dalam penelitian ini mungkin uji statistik Cronbach Alpha (α). Secara matematis uji statistis Cronbach Alpha (α) dapat dilakukan dengan rumus:
α=Kr/(1+(K+1)r )

Keterangan :
α = Alpha (koefisien reliabilitas)
K= Jumlah item valid
r= rata-rata korelasi per item yang valid

METODE ANALISIS DATA
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat analisis korelasi sperman dan regresi linier sederhana berikut penjelasanya:
Analisis Deskriptif Pressentase
Analisis deskriptif pressentase dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui berapa persen responden yang menerapkan pola asuh otoriter, permisif, demokratis dan untuk mengetahui presentase masing-masing kenakalan remaja.

Menurut Arikunto (2002:210), jika data berbentuk kualitatif maka data dikuantitatifkan terlebih dahulu dengan cara diskor. Skor yang diperoleh dijumlahkan dan dibandingkan dengan skor yang telah ditentukan dikalikan 100% kemudian diperoleh presentase. Rumusnya sebagai berikut :
%=n/N x100%
Keterangan :
N = nilai total
n = nilai yang diperoleh
% = nilai persentase yang diperoleh

Nilai Analisis Korelasi
Lalu untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (Pola Asuh Otoriter (X1), Pola Asuh Permisif (X2) dan Pola Asuh Demokratis (X3) dengan variabel dependen (Kenakalan Remaja (Y)) digunakan analisis korelasi spearman.

Adapun criteria korelasi dari masing-masing variabel independen dengan variabel dependen adalah sebagai berikut : (Sugiyono,2006)
0,00-0,199 = sangat rendah
0,20-0,399 = rendah
0,40-0,599 = sedang
0,60-0,799 = kuat
0,80-1,000= sangat kuat

Alat Analisis Regresi Linier Sederhana
Alat analisis linier sederhana ini digunakan untuk mengetahui apakah hipotesis I,II,III penelitian diterima atau tidak digunakan alat regresi linier sederhana. Hipotesis I,II,dan III penelitian diterima apabila nilai Sig (P) hasil analisis regresi < tingkat signifikasi penelitian (α= 0,05) atau taraf signifikan 5%.

KUESIONER PENELITIAN
POLA ASUH KELUARGA

No. PERNYATAAN POLA ASUH TP KD SR SL
1 2 3 4
1 Anda selalu mengatur jam belajar anak
2 Anda selalu menyuruh anak untuk mengerjakan sesuatu dengan memaksa
3 Anda sering membelikan barang untuk anak anda tanpa bertanya apakah anak anda suka atau tidak
4 Jika anak anda berbuat kesalahan, anda tidak segan-segan memukul meskipun itu kesalahan kecil
5 Jika anak mendapat nilai yang bagus di kelas, anda memintanya agar lebih giat belajarnya, tanpa memberikan pujian apapun

No. PERNYATAAN POLA ASUH DEMOKRATIS TP KD SR SL
1 2 3 4
6 Jika sedang terjadi perselisihan pendapat dengan anggota keluarga anda memberikan kesempatan padaanak untuk mengutarakan pendapat
7 Anda memberikan teguran kepada anak apabila anak berbuat kesalahan
8 Anda selalu memberikan masukan kepada anak apabila anak berbuat kesalahan
9 Anda selalu memberikan kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan mengenai hal-hal yang menyangkut kemajuan dirinya

No. PERNYATAAN POLA ASUH PERMISIF TP KD SR SL
1 2 3 4
10 Anda membiarkan anak bermain dengan teman, tanpa memperhatikan waktu pulang
11 Memperoleh prestasi ataupun tidak, anda tidak pernah memberikan hadiah kepada anak
12 Meski anak sering terlambat ke sekolah anda tidak pernah memberikan hukuman apapun
13 Anda membebaskan anak anda untuk berbuat apa saja asal tidakmerugikan orang lain
14 Anda bersikap masa bodoh terhadap kebiasaan anak setiap harinya

KUESIONER PENELITIAN
KECENDERUNGAN KENAKALAN REMAJA

No. PERNYATAAN MEMBOLOS STS TS S SS
1 2 3 4
1 Saya tidak berangkat sekolah apabila tidak diberi uang saku
2 Takut dimarahi guru karena tidak mengerjakan PR saya memutuskan untuk tidak berangkat sekolah
3 Ketika pelajaran kosong, saya dengan teman-teman pergi ke kantin untuk membeli makan
4 Saya tidak ikut mata pelajaran yang tidak saya sukai di sekolah
5 Saya akan mencontek jawaban teman sebangku apabila ulangan
6 Saya akan membuka catatan secara diam-diam saat ulangan untuk memperoleh nilai baik
7 Saya sengaja membuat catatan pada kertas kecil saat akan ulangan
8 Saya sengaja memasukkan buku pada kolong meja agar sewaktu-waktu ulangan saya dapat mencontek
9 Saya sengaja akan datang terlambat karena kurang suka pada guru pengampu mata pelajaran
10 Kadang saya kesiangan bangun pagi sehingga terlambat masuk kelas
11 Merasa asik bercanda dengan teman di kantin saya sering terlambat masuk kelas
12 Saya pernah melakukan perkelahian hanya karena masalah pacar
13 Tersinggung karena ucapan yang kurang mengenakkan saya pernah memukul teman
14 Saya pernah iku tawuran dengan siswa lain
15 Saya pernah menjual HP dengan kondisi kurang bagus dengan harga mahal
16 Saya pernah ijin dengan orangtua untuk belajar kelompok, padahal saya akan main dengan teman
17 Apabila tidak punya uang untuk nonton bioskop saya akan berbohong dengan minta uang kepada orangtua karena kebutuhan sekolah
Saya pernah pamit untuk pergi ke sekolah namun pergi untuk shopping dengan pacar
Saya sering bermain sms untuk mengisi kejenuhan saat pelajaran di kelas
Lebih baik sms dengan teman daripada mendengarkan guru menerangkan
Saya sering tidak mengerti mata pelajaran yang diajarkan guru sebab saya asyik sendiri bermin game di hp
Pernah melanggar norma agama ketika berduaan dengan pacar
Karena pernah menonton adegan film dewasa saya pernah mengajak pacar saya bermesraan

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohammad & Mohammad Asrori.2008. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik). Jakarta : Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:Rineka Cipta

Departemen Sosial.2004.Penelitian Model Pemberdayaan Keluarga dalam Mencegah Tindak Tuna Sosial oleh Remaja Perkotaan. http://www.depsos.go.id/Balatbang/as.doc

Ghozali.2006. Analisis Multi Variate dengan SPSS. Semarang. Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Hurlock.1980. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (terjemahan). Jakarta: Erlangga

.1997.Psikologi Perkembangan Anak (Psikologi Populer). Jakarta: Ghalia Indonesia

Kartono, K.1986, Psikologi Sosial 2, Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali

——2003.Patologi Sosial 2. Kenakalan Remaja. Jakarta : Rajawali Pers

Khaerudin.2005.Sosiologi Keluarga. Jakarta. Liberty

Monks, F.J,K & Haditono, S.R.2006. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta :Gadjah Mada University Press
Mulyono,Sri.2005. Statistika Untuk Ekonomi dan Bisnis. Jakatra. Universitas Indonesia
Poerwadarminto.1989. Kamus Besar Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka

Prasetya, G.Tembong.2003. Pola Pengasuhan Ideal, Jakarta: Elex Media Komputindo

Sarwono,S.W.2002. Psikologi Remaja. Edisi Enam.Jakarta.Rja Grafindo Persada

Sudarsono.2004. Kenakalan Remaja.Jakarta :Rineka cIpta

Sugiyono.2006. Statistika Untuk Penelitian.Bandung.CV Alfabeta

Umar,Husein.2000.Metode Penelitian. Jakarta:Ghalia Indonesia