Metode Penelitian Kualitatif

Published November 26, 2011 by eliclalahi

PROPOSAL
Nama : Eli Nova Silalahi
NIM : 3401409029
JUDUL
“HUBUNGAN POLA ASUH KELUARGA TERHADAP KECENDERUNGAN KENAKALAN REMAJA di SMA N 4 TEGAL”
LATAR BELAKANG
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang, masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang. Dewasa ini sering terjadi seorang anak digolongkan delinkuen jika pada anak tersebut Nampak adanya kecendrungan-kecendrungan anti sosial yang sangat memuncak sehingga perbuatan-perbuatan tersebut menimbulkan gangguan-gangguan terhadap keamanan, ketentraman dan keterlibatan masyarakat, misalnya pencurian, pembunuhan, penganiayaan, pemerasan, penipuan, penggelapan dan gelandangan serta perbuatan perbuatan lain yang dilakukan oleh anak remaja yang meresahkan masyarakat ( Sudarsono, 2004 : 114).

Hampir setiap hari kasus kenakalan remaja selalu kita temukan di media massa, dimana sering terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Salah satu wujud dari kenakalan remaja adalah tawuran yang dilakukan oleh para pelajar. Dalam fase ini, orangtua sangat berperan dalam mengawasi anak-anaknya dalam bergaul dan menuntun dalan menjalani hidup supaya tidak salah bergaul dengan teman-teman yang dapat menjerumuskan anak. Keluarga merupakan hal terpenting bagi anak karena sebagai pedoman dalam hidup. Bila keluarga sendiri mempunyai problematika yang serius, bagaimana anak bias bersandar pada keluarga di saat punya masalah ? Keluarga yang bermasalah tidak akan mengajarkan mengenai keakraban dan tali darah yang ada.

Namun kasih sayang orangtua yang berlebihan bagi anak malah akan membuat anak remaja menjadi anak yang manja. Seringkali dikarenakan anak tersebut merupakan anak tunggal atau karena kurangnya perhatian yang didapat oleh orangtuanya dulu sehingga dipuaskan kepada anak. Juga dapat dikarenakan oleh rasa bersalah orangtua kepada anak yang disebabkan orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaannya atau over active ataupun penyebab lainnya.

Pengendalian untuk kenakalan remaja dapat dilakukan dengan bersifat preventif dan bersifat represif. Anak-anak perlu ditanamkan sikap disiplin oleh orangtua, diberiakan kasih sayang dan rasa keamanan bagi anak. Orangtua dapat menjadi sahabat bagi anaknya.

Berdasarkan pengamatan dan informasi dari guru bimbingan dan konseling SMA Negeri 4 Tegal bahwa dari siswa-siswi yang sering melakukan kenakalan di lingkungan sekolah. Sebagian mengatakan bahwa dalam lingkungan keluarganya terutama hubungan antara anak dan orangtua, ia harus mematuhi aturan-aturan yang diterapkan oleh orangtuanya, penentuan masa depan, pilihan sekolah, waktu belajar, sampai pada pilihan teman bergaul. Selanjutnya sebagian siswa menyatakan bahwa selama ini orangtuanya tidak terlalu menggubris dirinya. Ia bebas menentukan apa yang dia mau. Orangtua tidak memberikan tuntutan apapun kepada mereka, bahkan ada yang mengatakan bahwa orangtuanya selalu memenuhi apapun yang ia minta tanpa melihat sejauh mana nilai kepentingannya terhadap kehidupan remaja. Rata-rata dari mereka orangtuanya sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Bahkan ada orangtua yang tidak peduli sama sekali dengan keberadaan dirinya.mendapat perlakuan semacam ini ada sebagian yang menyatakan bahwa ia merasa menjadi anak yang tidak diperhatikan oleh orangtuanya, sehingga ia lebih sering berada di luar rumah untuk menghabiskan waktunya dengan teman-teman.

Dari paparan di atas dapat dilihat bahwa hamper mayoritas siswa-siswi menunjukkan mereka diasuh dengan gayapengasuhan yang otoriter dan permisif. Berdasarkan hasil penelitian Balatbangos Depsos tahun 2004, bahwa pola asuh yang dominan menurut remaja adalah pola asuh otoriter (83,33 %), disusul dengan pola asuh permisif dan demokratis masing-masing terdapat 90% keluarga yang kurang demokratis dalam menerapkan pola asuh terhadap anak. Hal ini akan menciptakan iklim yang yang kurang kondusif bagi perkembangan anak. Sejalan dengan pola asuh tersebut dapay dicermati lebih jauh dasar pemikiran dan tindakan orangtua dalam mengasuh anak-anaknya. Pola asuh yang demokratis akan bertindak lebih rasional dengan persentase yang kebetulan sama yaitu 33,33%. Demikian pula dengan pola yang tidak demokratis yang mempunyai persentase yang relative sama dengan kategori tindakan yang tidak rasional yaitu 90%.

Berdasarkan latar belakangt tersebut maka saya tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Hubungan Pola Asuh Keluarga terhadap Kecenderungan Kenakalan Remaja di SMA N 4 Tegal “.

RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :
Apakah ada hubungan pola asuh otoriter terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?
Apakah ada hubungan pola asuh permisif terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?
Apakah ada hubungan pola asuh demokratis terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?

TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian adalah :
Untuk mengetahui hubungan pola asuh otoriter terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?
Untuk mengetahui hubungan pola asuh permisif terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?
Untuk mengetahui hubungan pola asuh demokratis terhadap kecenderungan kenakalan remaja di SMA N 4 Tegal ?

MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan tujuan di atas, maka hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
Secara teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi wahana perkembangan ilmu sosial yang berhubungan dengan kenakalan remaja dan menambah pengetahuan dan wawasan serta sebagai wahana latihan penerapan ilmu sosial dalam kehidupan nyata.
Secara praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi orangtua siswa dan sekolah mengenai tingkat kenakalan remaja yang terjadi di daerahnya

TINJAUAN PUSTAKA
Pola Asuh Keluarga
Definisi Pola Asuh
Pola Asuh adalah suatu proses belajar dengan melepas hal-hal yang belum dimiliki dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan yang baru untuk mencapai tujuan hidup dan kerja yang sedang dijalani secara lebih efektif (Mangunhardjana 1988:11).

Macam-macam Pola Asuh
Pola Asuh dalam keluarga ada 3 macam yaitu :
1). Pola Asuh Otoriter
Pola Otoriter adalah suatu tenaga yang dipaksakan dari luar (Spock 1992:265). Jadi pola ini memerlukan aturan yang ditunjukan pada anak dan anak akan mematuhi sepanjang ada yang mengawasi.

Dalam pola ini kebebasan anak sangat dibatasi, anak harus melakukan apa yang diinginkan ibu dan biasanya apabila anak melanggar aturan, anak akan dihukum, namun bila anak sudah melakukan sesuatu seperti kehendak ibu maka ibu tidak akan member hadiah karena sudah dianggap wajar. Akibat yang timbul dari pelaksanaan Pola Asuh ini adalah anak akan menjadi takut, tidak mempunyai inisiatif dan kreatifitas, kemandirian hilang, timbul rasa rendah diri, rasa bodoh, tertekan jiwanya dan timbul rasa kecewa pada anak (Tim Penggerak PKK pusat 1995:29).
2). Pola Asuh Permisif
Dalam pola liberal keluarga begitu bebas dan kebebasan yang diberikan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa meminta pertimbangan kepada ibunya. Anak merasa tidak ada pegangan tertentu sehingga anak tidak tahu perilaku yang benar atau salah dan bertindak sehendak dirinya sendiri.

Pola ini ditandai dengan adanya aturan yang memberikan kebebasan penuh kepada anak untuk berbuat sekehendak hatinya, berbuat serba boleh. Orangtua selalu membenarkan atau malah tidak peduli terhadap kelakuan anak sehingga dengan demikian ibu tidak pernah menghukum anaknya. Orangtua kurang berfungsi dalam mengontrol sikap anak serta adanya kekuasaan dan kehendak anak yang dominan.

Pola Asuh Demokratis
Pola Asuh ini memandang anaksebaga individu yang sedang berkembang. Oleh karena itu harus bersikap terbuka terhadap anak. Antara lain ibu membuat aturan-aturan yang disepakati bersama, diberikan kebebasan mengemukakan pendapat orang lain.

Pola Asuh Demokratis ini menempatkan anak pada posisi yang sama dengan mereka (orangtua), dalam arti hak dan kewajibannya dalam keluarga. Anak selalu diajak untuk mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapkan di keluarga terutama yang menyangkut masalah anak itu sendiri. Aturan ibu dan anak terbuka, saling memberi dan berusaha mengontrol dan mendorong serta membimbing anak agar dapat hidup secara mandiri.

Kecendrungan Kenakalan Remaja
Definisi Kenakalan Remaja
Sarwono (2002) mengungkapkan kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana, Santrock (1999) juga menambahkan kenakalan remaja sebagai kumpulan dari berbagai perilaku, dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial sampai tindakan kriminal.

Bentuk dan Aspek Kenakalan Remaja
Menurut Kartono (2003), bentuk-bentuk perilaku kenakalan remaja dibagi menjadi 4 :
Kenakalan terisolir
Kelompok ini merupakan jumlah terbesar dari remaja nakal. Pada umumnya mereka tidak menderita kerusakan psikologis. Perbuatan nakal anak didorong oleh faktor-faktor berikut :
Keinginan meniru dan ingin conform dengan gangnya jadi tidak ada motivasi, kecemasan atau konflik batinnya yang tidak dapat diselesaikan.
Kelompok ini kebanyakan berasal dari daerah kota yang transisional yang sifatnya memiliki subkultur kriminal.
Pada umumnya remaja berasal dari keluarga berantakan, tidak harmonis, dan mengalami banyak frustasi sebagai jalan keluarnya remaja memuaskan semua kebutuhan dasarnya di tengah lingkungan kriminal. Gang remaja nakal memberikan alternative hidup yang menyenangkan.
Remaja dibesarkan dalam keluarga tanpa atau sedikit mendapatkan supervise dan latihan kedisiplinan yang teratur, sebagai akibatnya dia tidak sangggup menginternalisasikan norma hidup normal. Hal ini disebabkan oleh proses pendewasaan dirinya sebagai orang dewasa yang mulai memasuki peran sosial yang baru.

Kenakalan Neurotik
Pada umumnya remaja nakal tipe ini menderita gangguan kejiwaan yang cukup serius, antara lain berupa kecemasan, merasa selalu tidak aman, merasa bersalah batinnya dan berdosa dan lain-lain. Ciri-ciri perilakunya adalah :
Perilaku nakalnya bersumber dari sebab-sebab psikologis yang sangat dalam, bukan hanya berupa adaptasi pasif menerima nilai subkultur gang yang kriminal itu saja.
Perilaku kriminal remaja merupakan ekspresi dari konflik batin yang belum terselesaikan karena perilaku jahat remaja merupakan alat pelepas ketakutan, kecemasan dan kebingungan.
Biasanya remaja ini melakukan kejahatan seorang diri dan mempraktekkan jenis kejahatan itu, misalnya suka memperkosa kemudian membunuh korbannya, kriminal ini sekaligus neurotik.
Remaja nakal ini banyak yang berasal dari kalangan menengah namun pada umumnya keluarg mereka mengalami banyak ketegangan emosional yang parah dan orangtuanya biasanya juga neurotik atau psikotik.
Remaja memiliki ego yang lemah, dan cenderung mengisolir diri dari lingkungannya.
Motif kejahatannya berbeda-beda.
Perilakunya menunjukkan kualitas paksaan.

Kenakalan Psikotik
Kenakalan ini sedikit jumlahnya, akan tetapi dilihat dari kelompok umum dan segi keamanan, mereka merupakan oknum kriminal yang paling berbahaya. Ciri-cirinya adalah :
Hampir seluruh remaja kenakalan ini berasal dan dibesarkan dari lingkungan keluarga yang ekstrim, brutal, diliputi banyak pertikaian keluarga, berdisiplin keras namun tidak konsisten dan orangtuanya selalu menyia-nyiakan mereka, sehingga mereka tidak mempunyai kapasitas untuk menambahkan afeksi dan tidak mampu menjalin hubungan emosional yang akrab dan baik dengan orang lain.
Tidak mampu menyadari arti bersalah, berdosa atau melakukan pelanggaran.
Bentuk kejahatan majemuk, tergantung pada suasana hatinya yang kacau dan tidak dapat diduga. Pada umumnya sangat agresif dan implusif. Biasanya mereka berulang kali masuk penjara dan sulit sekali diperbaiki.
Anak selalu gagal dalam menyadari dan menginternalisasikan norma-norma sosial yang umum berlaku juga tidak peduli terhadap norma subkultur gang nya sendiri.
Kebanyakan dari remaja juga menderita gangguan neurologis sehingga mengurangi kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri.

Kenakalan defek moral
Defek artinya rusak, tidak lengkap, salah, cedera, cacat, kurang. Kenakalan ini mempunyai ciri : selalu melakukan tindakan anti sosial walaupun pada dirinya tidak terdapat penyimpangan, namun ada disfungsi pada intelegensinya.

Kelemahan para remaja kenakalan ini adalah tidak mampu mengenal dan memahami tingkah laku yang jahat, juga tidak mampu mengendalikan dan mengatur, selalu ingin melakukan perbuatan kekerasan, penyerangan dan kejahatan. Rasa kemanusiannya sangat terganggu, sikapnya sangat dingin tanpa afeksi. Jadi ada kemiskinan afektif dan sterilitas emosional.

Karakteristik Remaja Nakal
Menurut Kartono (2003), remaja nakal itu mempunyai karakteristik umum yang sangat berbeda dengan remaja tidak nakal. Perbedaan itu mencakup:
1). Perbedaan struktur intelektual
Pada umumnya inteligensi mereka tidak berbeda dengan inteligensi remaja yang normal, namun jelas terdapat fungsi- fungsi kognitif khusus yang berbeda biasanya remaja nakal ini mendapatkan nilai lebih tinggi untuk tugas-tugas prestasi daripada nilai untuk ketrampilan verbal (tes Wechsler). Mereka kurang toleran terhadap hal-hal yang ambigius biasanya mereka kurang mampu memperhitungkan tingkah laku orang lain bahkan tidak menghargai pribadi lain dan menganggap orang lain sebagai cerminan dari diri sendiri.

2). Perbedaan fisik dan psikis
Remaja yang nakal ini lebih “idiot secara moral” dan memiliki perbedaan ciri karakteristik yang jasmaniah sejak lahir jika dibandingkan dengan remaja normal. Bentuk tubuh mereka lebih kekar, berotot,kuat,dan pada umumnya bersikap lebih agresif. Hasil penelitian juga menunjukkan ditemukannya fungsi pisiologis dan neurologis yang khas pada remaja nakal ini, yaitu: mereka kurang bereaksi terhadap stimulus kesakitan dan menunjukkan ketidakmatangan jasmaniah atau anomaly perkembangan tertentu. Ciri karakteristik individual remaja yang nakal ini mempunyai sifat kepribadian khusus yang menyimpang , seperti:
Rata-rata remaja nakal ini hanya berorientasi pada masa sekarang,
bersenang-senang dan puas pada hari ini tanpa memikirkan masa
depan.
Kebanyakan dari mereka terganggu secara emosional.
Mereka kurang bersosialisasi dengan masyarakat normal, sehingga tidak mampu mengenal norma norma kesusilaan, dan tidak bertanggung jawab secara sosial.
Mereka senang menceburkan diri dalam kegiatan tanpa berpikir yang merangsang rasa kejantanan, walaupun mereka menyadari besarnya risiko dan bahaya yang terkandung di dalamnya.
Pada umumnya mereka sangat impulsif dan suka tantangan dan bahaya.
Hati nurani tidak atau kurang lancar fungsinya.
Kurang memiliki disiplin diri dan kontrol diri sehingga mereka menjadi liar dan jahat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja nakal biasanya
berbeda dengan remaja yang tidak nakal. Remaja nakal biasanya lebih
ambivalen terhadap otoritas, percaya diri, pemberontak, mempunyai control diri yang kurang, tidak mempunyai orientasi pada masa depan dan kurangnya kemasakan sosial, sehingga sulit bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.
Faktor- faktor Penyebab Kecenderungan Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja muncul karena beberapa aspek sebab baik salah satu maupun bersamaan sehubungan dengan banyaknya factor yang menyebabkan kenakalan remaja maka mempermudah pembahasan penulis mengelompokkan menjadi 2 yaitu :
Faktor intern
Adalah satu hal yang menyebabkan remaja bertingkah laku tertentu yang dating dari dirinya sendiri (Kartono 1986 :122). Adapun factor-faktor penyebab kenakalan remaja yang datang dari dirinya adalah :
Frustasi negatife yang dimasukkan dalam adaptasi yang salah terhadap tuntutan zaman yang serba kompleks sekarang ini. Anak menjadi salah bertindak dan bertingkah laku bahkan menjadi agresif, ugal-ugalan, liar dan selalu menginginkan jalur kekerasan.
Gangguan tanggapan dan pengamatan pada remaja yang keliru dan salah atas kenyataan yang ada sehingga timbul interpretasi yang keliru dan salah akibat jauhnya remaja menjadi agresif menghadapi tekanan-tekanan bahaya yang timbul sehingga anak menjadi liar, cepat marah dan selalu mencari jalan kekerasan.
Gangguan berfikir dan intelegensi pada diri kalangan remaja dewasa jiwanya terganggu akan memperalat fikirannya untuk membela dan membenarkan gambaran-gambaran semu dan tanggapan-tanggapan salah. Akibatnya reaksi dan tingkah laku anak menjadi salah, bisa liar dan selalu mencari jalan kekerasan.
Gangguan emosional atau perasaan pada remaja jika keinginan dan kebutuhan tidak terpenuhi maka remaja ini akan cenderung frustasi, yang bias disebabkan oleh perlakuan orangtuanya.
Faktor ekstern
Adanya tindak kenakalan remaja adalah semua pereangsang dan pengaruh dari luar yang menimbulkan tingkah laku tertentu pada anak remaja (Kartono 1998:111). Faktor ini disebut juga factor sosial yang dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :
Lingkungan keluarga
Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang perananya besar sekali dalam perkembanagn sosial, terlebih pada awal-awal perkembangan kepribadian . Adanya perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
Lingkungan sekolah
Meskipun sekolah merupakan lembaga pendidikan dimana situasinya berisikan pendidikan, namun tidak jarang menimbulkan kenakalan karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya dan berinteraksinya antara anak remaja yang berbeda.
Lingkungan sosial masyarakat
Dalam pengertian ini dibatasi pada lingkungan dimana kalangan remaja tinggal dalam pergaulan masyarakat terjadi interaksi beranekaragam kepribadian dan pandangan hidup. Hali ini sangat mempengaruhi sikap dan tingkah laku remaja.

Remaja
Definisi Remaja
WHO (dalam Sarwono, 2002) mendefinisikan remaja lebih bersifat konseptual, ada 3 kriteria yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi dengan batasan usia antara 10-20 tahun yang secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut :
Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual.
Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relative lebih mandiri.

Monks (1999) sendiri memberikan batasan usia masa remaja adalah masa diantara 12 sampai 21 tahun dengan perincian 12 sampai 15 tahun masa remaja awal, 15 sampai 18 masa remaja pertengahan, dan 18 sampai 21 tahun masa remaja akhir.

Ciri-Ciri Remaja
Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan yang dialami oleh setiap individu, sebagai masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa ini memiliki ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode perkembangan yang lain. Ciri yang menonjol pada masa ini adalah individu mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang amat pesat, baik fisik,emosional dan sosial. Hurlock (1999) pada masa remaja ini ada beberapaperubahan yang bersifat universal, yaitu meningkatnya emosi, perubahan fisik, perubahan terhadap minat dan peran, perubahan pola perilaku,nilai-nilai dan sikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Berikut ini dijelaskan satu persatu dari ciri-ciri perubahan yang terjadi pada masa remaja.

Perubahan fisik
Perubahan fisik berhubungan dengan aspek anotomi dan aspek fisiologis,dimasa remaja kelenjar hipofesa menjadi masak dan mengeluarkan beberapa hormon, seperti hormone gonotrop yang berfungsi untuk mempercepat kemasakan sel telur dan sperma, serta mempengaruhi produksi hormone kortikortop berfungsi mempengaruhi kelenjar suprenalis, testosterone,oestrogen, dan suprenalis yang mempengaruhi pertumbuhan anak sehingga terjadi percepatan pertumbuhan (Monks dkk, 1999). Dampak dari produksi hormon tersebut Atwater, (1992) adalah: (1) ukuran otot bertambah dan semakin kuat. (2) testosteron menghasilkan sperma dan oestrogen memproduksi sel telur sebagai tanda kemasakan. (3) Munculnya tanda-tanda kelamin sekunder seperti membesarnya payudara, berubahnya suara, ejakulasi pertama, tumbuhnya rambut rambut halus disekitar kemaluan, ketiak dan muka.

PerubahanEmosional
Pola emosi pada masa remaja sama dengan pola emosi pada masa kanak-kanak.Pola-pola emosi itu berupa marah, takut, cemburu, ingin tahu, irihati, gembira, sedih dan kasih sayang. Perbedaan terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan pengendalian dalam mengekspresikan emosi.

Remaja umumnya memiliki kondisi emosi yang labil pengalaman emosi yangekstrem dan selalu merasa mendapatkan tekanan (Hurlock, 1999). Bila pada akhir masa remaja mampu menahan diri untuk tidak mengeksperesikan emosi secara ekstrem dan mampu memgekspresikan emosi secara tepat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan dan dengan cara yang dapat diterima masyarakat, dengan kata lain remaja yang mencapai kematangan emosi akan memberikan reaksi emosi yang stabil (Hurlock,1999). Nuryoto(1992) menyebutkan ciri-ciri kematangan emosi pada masa remaja yang ditandai dengan sikap sebagai berikut: (1) tidak bersikap kekanak-kanakan.(2)bersikap rasional. (3) bersikap objektif (4) dapat menerima kritikan orang lain
sebagai pedoman untuk bertindak lebih lanjut. (5) bertanggung jawab terhadaptindakan yang dilakukan. (6) mampu menghadapi masalah dan tantangan yang dihadapi.

Perubahaan sosial
Perubahan fisik dan emosi pada masa remaja juga mengakibatkan perubahan dan perkembangan remaja, Monks, dkk (1999) menyebutkan dua bentuk perkembangan remaja yaitu, memisahkan diri dari orangtua dan menuju ke arah teman sebaya.Remaja berusaha melepaskan diri dari otoritas orang tua dengan maksud menemukan jati diri. Remaja lebih banyak berada diluar rumah dan berkumpul bersama teman sebayanya dengan membentuk kelompok dan mengeksperesikan segala potensi yang dimiliki.Kondisi ini membuat remaja sangat rentan terhadap pengaruh teman dalam hal minat, sikap penampilan dan perilaku. Perubahan yang paling menonjol adalah hubungan heteroseksual. Remaja akan memperlihatkan perubahan radikal dari tidak menyukai lawan jenis menjadi lebih menyukai. Remaja ingin diterima,diperhatikan dan dicintai oleh lawan jenis dan kelompoknya.

Hubungan Pola Asuh Keluarga terhadap Kenakalan Remaja
Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya remaja. Secara ideal perkembangan anak remaja akan optimal apabila mereka bersama keluarganya yang harmonis, sehingga berbagai kebutuhan yang diperlukan dapat terpenuhi.

Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari tidak semua keluarga dapat memenuhi gambaran keluarga yang ideal tersebut. dalam kaitannya dengan permasalahan remaja, rintangan perkembangan remaja menuju kedewasaan itu ditentukan oleh factor-faktor yang mempengaruhi anak pada waktu kecil di lingkungan masyarakat.

Dari penelitian Anita S (2006), meyebutkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan kecenderungan perilaku agresi pada remaja melakukan kenakalan remaja. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan itu kecenderungan perilaku agresi pada remaja tergolong rendah. Penelitian lain, Ariani Ni Putu (2004) menyebutkan pola asuh keluarga sangat berhubungan dengan perilaku remaja merokok, agresif, dan seksual.

KERANGKA BERFIKIR

Anak adalah anggota penting dalam sebuah keluarga. Kehadiran seorang anak sangat dinantikan, ketika seorang anak hadir di tengah keluarga tentu orangtua senang sekali dan akan menyayangi sepenuh hati, kasih sayang dari orangtua adalah sebuah kebutuhan yang harus didapat oleh anak.

Pada masa remaja terutama remaja awal merupakan fase dimana teman sebaya sangat penting bagi remaja. Idealism sangat kuat dan identitas diri mulai terbentuk dengan emosi yang labil, jika seorang remaja tidak bias mengendalikan dirinya maka seringkali remaja melakukan penyimpangan.

Kenakalan remaja dipemgaruhi oleh banyak factor, antara lain pola asuh keluarga. Pola asuh yang salah dapat mengakibatkan anak terjerumus ke hal yang tidak baik. Brown (1961:76) mengatakan bahwa keluarga adalah lingkungan yang pertama kali menerima kehadiran anak. Jadi dalam hal ini pola asuh keluarga sangat besar dalam membentuk pribadi dan sikap seorang anak.

Pola asuh sendiri adalah suatu proses belajar dengan melepas hal-hal yang dan kecakapan yang baru untuk mencapai tujuan hidup dan kerja yang sedang djalani secara lebih efektif (Mangunhardjana 1998:11).
Pola asuh keluarga ada 3 macam diantaranya adalah :
Pola Otoriter
Pola Permisif
Pola Demokratis

HIPOTESIS
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dipaparkan di atas. Maka menjadikan hipotesis penelitian sebagai berikut :
H1 = Ada pengaruh Pola Asuh Otoriter terhadap Kenakalan Remaja
H2= Ada pengaruh Pola Asuh Permisif terhadap Kenakalan Remaja
H3= Ada pengaruh Pola Asuh Demokratis terhadap Kenakalan Remaja

METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasi. Penelitian korelasi adalah penelitian bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel. Dalam hal ini menggambarkan hubungan antara pola asuh orangtua dengan kecenderungan kenakalan remaja.

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel Penelitian
Menurut Arikunto (2002:98) variabel penelitian adalah objek yang menjadi titik perhatian semua penelitian.
Identifikasi variabel
Variabel penelitian dalam penelitian ini adalah :
Variabel bebas yaitu variabel yang diasumsikan menjadi penyebab munculnya variabel lain. Dalam penelian ini variabel bebas adalah pola asuh keluarga.
Variabel terikat yaitu variabel yang kemunculannya disebabkan oleh variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikat adalah kecenderungan kenakalan remaja.
Definisi Operasional
Pola Asuh
Pola asuh keluarga didefinisikan sebagai segala bentuk tingkah laku orangtua dalam berinteraksi dengan anaknya sehari-hari dalam rangka membimbing, mendidik, mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang menjadi tujuan hidup keluarga. Secara operasional gaya pengasuhan orangtua didefinisikan sebagai bentuk-bentuk tingkah laku orangtua yang diterima oleh anak selama ini.
Pola asuh keluarga ada 3 macam yaitu
Pola otoriter, indikatornya :
Mengatur jam belajar anak
Menyuruh anak dengan memaksa
Membelikan barang tanpa bertanya kepada anak
Tidak segan-segan memukul anak
Tidak pernah memberikan pujian
Pola Permisif, indikatornya :
Memberikan kebebasan pada anak tanpa batasan
Tidak pernah memberikan hadiah kepada anak
Tidak pernah memberikan hukuman kepada anak
Orangtua hanya berperan sebagai pemberi fasilitas
Bersikap masa bodo terhadap perilaku anak
Pola Demokratis, indikatornya :
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengutarakan pendapat
Pemberian hukuman akibat perilaku yang salah
Memberi masukan nilai-nilai positif kepada anak
Melatih anak berpikir dan bertanggung jawab

Untuk menilai pernyataan-pernyataan tersebut digunakan skala likert dengan ketentuan jawaban sebagai berikut :
Tidak pernah (TP) = Skor 1
Kadang-kadang (KD) = Skor 2
Sering (SR) = Skor 3
Selalu (SL) = Skor 4

Kecenderungan Kenakalan Remaja
Adalah kecenderungan remaja melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Adapun indicator untuk mengukur kecenderungan kenakalan remaja dalam penelitian ini adalah :
Membolos
Menyontek
Terlambat
Berkelahi
Berbohong
Main HP di kelas
Seks bebas
Mencuri
Untuk mengukur kecenderungan kenakalan remaja digunakan skala likert dengan ketentuan jawaban sebagai berikut :
Sangat setuju (SS) = Skor 1
Setuju (S) = skor 2
Tidak setuju (TS) = skor 3
Sangat tidak setuju (STS)= Skor 4

Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini sekaligus menjadi sampel penelitian yaitu seluruh siswa SMA N 4 Tegal sebanyak 260 orang dan 260 orangtua siswa, orangtua siswa disini yang dimaksud adalah ayah karena di dalam setiap keluarga yang menentukan pola asuh yang digunakan adalah ayah sebagai kepala keluarga.

METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah proses pencatatan pola perilaku subjek (orang), objek (benda) atau kejadian yang sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti. Alasan peneliti menggunakan metode dokumentasi karena metode ini dapat menghasilkan data yang telah rinci mengenai kondisi siswa-siswi SMA N 4 Tegal. Dokumentasi digunakan untuk mendukung data primer dan mengetahui keadaan yang ada.

Teknik Kuesioner (angket)
Teknik ini adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui (Arikunto,2002:128). Kuosioner atau daftar pertanyaan digunakan dalam penelitian ini bersifat tertutup jadi sudah disiapkan alternative jawaban. Responden hanya memilih alternative jawaban tersebut sesuai dengan kenyataan.

Uji Validitas dan Realibilitas
Validitas
Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat atau dengan kata lain sebuah instrumen dikatakan valid apabila benar-benar dapat dijadikan sebagai alat untuk mengukur apa yang akan diukur.

Secara sistematis uji validitas dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut : (Arikunto 2002:146)

rxy = (NΣXY-(ΣX)(ΣY))/√({NΣX^2- (ΣX)^2 } {NΣY^2- (ΣY)^2})

Keterangan :
Rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan Y
N = jumlah subjek
ΣX = jumlah skor total item X
ΣY= jumlah skor total item Y
Reliabilitas
Instrument sebagai alat pengukur data harus reliable, artinya bahwa instrument tersebut cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument sudah baik. Untuk melakukan uji realibilitas dalam penelitian ini mungkin uji statistik Cronbach Alpha (α). Secara matematis uji statistis Cronbach Alpha (α) dapat dilakukan dengan rumus:
α=Kr/(1+(K+1)r )

Keterangan :
α = Alpha (koefisien reliabilitas)
K= Jumlah item valid
r= rata-rata korelasi per item yang valid

METODE ANALISIS DATA
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat analisis korelasi sperman dan regresi linier sederhana berikut penjelasanya:
Analisis Deskriptif Pressentase
Analisis deskriptif pressentase dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui berapa persen responden yang menerapkan pola asuh otoriter, permisif, demokratis dan untuk mengetahui presentase masing-masing kenakalan remaja.

Menurut Arikunto (2002:210), jika data berbentuk kualitatif maka data dikuantitatifkan terlebih dahulu dengan cara diskor. Skor yang diperoleh dijumlahkan dan dibandingkan dengan skor yang telah ditentukan dikalikan 100% kemudian diperoleh presentase. Rumusnya sebagai berikut :
%=n/N x100%
Keterangan :
N = nilai total
n = nilai yang diperoleh
% = nilai persentase yang diperoleh

Nilai Analisis Korelasi
Lalu untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (Pola Asuh Otoriter (X1), Pola Asuh Permisif (X2) dan Pola Asuh Demokratis (X3) dengan variabel dependen (Kenakalan Remaja (Y)) digunakan analisis korelasi spearman.

Adapun criteria korelasi dari masing-masing variabel independen dengan variabel dependen adalah sebagai berikut : (Sugiyono,2006)
0,00-0,199 = sangat rendah
0,20-0,399 = rendah
0,40-0,599 = sedang
0,60-0,799 = kuat
0,80-1,000= sangat kuat

Alat Analisis Regresi Linier Sederhana
Alat analisis linier sederhana ini digunakan untuk mengetahui apakah hipotesis I,II,III penelitian diterima atau tidak digunakan alat regresi linier sederhana. Hipotesis I,II,dan III penelitian diterima apabila nilai Sig (P) hasil analisis regresi < tingkat signifikasi penelitian (α= 0,05) atau taraf signifikan 5%.

KUESIONER PENELITIAN
POLA ASUH KELUARGA

No. PERNYATAAN POLA ASUH TP KD SR SL
1 2 3 4
1 Anda selalu mengatur jam belajar anak
2 Anda selalu menyuruh anak untuk mengerjakan sesuatu dengan memaksa
3 Anda sering membelikan barang untuk anak anda tanpa bertanya apakah anak anda suka atau tidak
4 Jika anak anda berbuat kesalahan, anda tidak segan-segan memukul meskipun itu kesalahan kecil
5 Jika anak mendapat nilai yang bagus di kelas, anda memintanya agar lebih giat belajarnya, tanpa memberikan pujian apapun

No. PERNYATAAN POLA ASUH DEMOKRATIS TP KD SR SL
1 2 3 4
6 Jika sedang terjadi perselisihan pendapat dengan anggota keluarga anda memberikan kesempatan padaanak untuk mengutarakan pendapat
7 Anda memberikan teguran kepada anak apabila anak berbuat kesalahan
8 Anda selalu memberikan masukan kepada anak apabila anak berbuat kesalahan
9 Anda selalu memberikan kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan mengenai hal-hal yang menyangkut kemajuan dirinya

No. PERNYATAAN POLA ASUH PERMISIF TP KD SR SL
1 2 3 4
10 Anda membiarkan anak bermain dengan teman, tanpa memperhatikan waktu pulang
11 Memperoleh prestasi ataupun tidak, anda tidak pernah memberikan hadiah kepada anak
12 Meski anak sering terlambat ke sekolah anda tidak pernah memberikan hukuman apapun
13 Anda membebaskan anak anda untuk berbuat apa saja asal tidakmerugikan orang lain
14 Anda bersikap masa bodoh terhadap kebiasaan anak setiap harinya

KUESIONER PENELITIAN
KECENDERUNGAN KENAKALAN REMAJA

No. PERNYATAAN MEMBOLOS STS TS S SS
1 2 3 4
1 Saya tidak berangkat sekolah apabila tidak diberi uang saku
2 Takut dimarahi guru karena tidak mengerjakan PR saya memutuskan untuk tidak berangkat sekolah
3 Ketika pelajaran kosong, saya dengan teman-teman pergi ke kantin untuk membeli makan
4 Saya tidak ikut mata pelajaran yang tidak saya sukai di sekolah
5 Saya akan mencontek jawaban teman sebangku apabila ulangan
6 Saya akan membuka catatan secara diam-diam saat ulangan untuk memperoleh nilai baik
7 Saya sengaja membuat catatan pada kertas kecil saat akan ulangan
8 Saya sengaja memasukkan buku pada kolong meja agar sewaktu-waktu ulangan saya dapat mencontek
9 Saya sengaja akan datang terlambat karena kurang suka pada guru pengampu mata pelajaran
10 Kadang saya kesiangan bangun pagi sehingga terlambat masuk kelas
11 Merasa asik bercanda dengan teman di kantin saya sering terlambat masuk kelas
12 Saya pernah melakukan perkelahian hanya karena masalah pacar
13 Tersinggung karena ucapan yang kurang mengenakkan saya pernah memukul teman
14 Saya pernah iku tawuran dengan siswa lain
15 Saya pernah menjual HP dengan kondisi kurang bagus dengan harga mahal
16 Saya pernah ijin dengan orangtua untuk belajar kelompok, padahal saya akan main dengan teman
17 Apabila tidak punya uang untuk nonton bioskop saya akan berbohong dengan minta uang kepada orangtua karena kebutuhan sekolah
Saya pernah pamit untuk pergi ke sekolah namun pergi untuk shopping dengan pacar
Saya sering bermain sms untuk mengisi kejenuhan saat pelajaran di kelas
Lebih baik sms dengan teman daripada mendengarkan guru menerangkan
Saya sering tidak mengerti mata pelajaran yang diajarkan guru sebab saya asyik sendiri bermin game di hp
Pernah melanggar norma agama ketika berduaan dengan pacar
Karena pernah menonton adegan film dewasa saya pernah mengajak pacar saya bermesraan

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohammad & Mohammad Asrori.2008. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik). Jakarta : Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi.2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:Rineka Cipta

Departemen Sosial.2004.Penelitian Model Pemberdayaan Keluarga dalam Mencegah Tindak Tuna Sosial oleh Remaja Perkotaan. http://www.depsos.go.id/Balatbang/as.doc

Ghozali.2006. Analisis Multi Variate dengan SPSS. Semarang. Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Hurlock.1980. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (terjemahan). Jakarta: Erlangga

.1997.Psikologi Perkembangan Anak (Psikologi Populer). Jakarta: Ghalia Indonesia

Kartono, K.1986, Psikologi Sosial 2, Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali

——2003.Patologi Sosial 2. Kenakalan Remaja. Jakarta : Rajawali Pers

Khaerudin.2005.Sosiologi Keluarga. Jakarta. Liberty

Monks, F.J,K & Haditono, S.R.2006. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta :Gadjah Mada University Press
Mulyono,Sri.2005. Statistika Untuk Ekonomi dan Bisnis. Jakatra. Universitas Indonesia
Poerwadarminto.1989. Kamus Besar Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka

Prasetya, G.Tembong.2003. Pola Pengasuhan Ideal, Jakarta: Elex Media Komputindo

Sarwono,S.W.2002. Psikologi Remaja. Edisi Enam.Jakarta.Rja Grafindo Persada

Sudarsono.2004. Kenakalan Remaja.Jakarta :Rineka cIpta

Sugiyono.2006. Statistika Untuk Penelitian.Bandung.CV Alfabeta

Umar,Husein.2000.Metode Penelitian. Jakarta:Ghalia Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: