Metode Penelitian Pendidikan

Published November 26, 2011 by eliclalahi

PROPOSAL
PENANAMAN PENDIDIKAN BERKARAKTER SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN MORAL PADA SISWA KELAS X 7 di SMA N 4 TEGAL

 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pribadi sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia dalam ukuran normatif. Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan zaman yang berkembang. Sedangkan menurut Ary H.Gunawan berpendapat bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi, yaitu sosialisasi nilai, pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Oleh karenanya, pendidikan senyatanya harus mampu menjawab persoalan-persoalan yang berada di tengah masyarakat.

Dalam hal ini, guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, untuk itu mutu pendidikan di suatu sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan tugasnya. Guru merupakan orangtua siswa dalam lingkungan sekolah. Maka peran guru begitu berarti dalam membentuk kepribadian para siswa diluar dari pengaruh lingkungan para siswa tersebut.

Salah satu yang telah dicanangkan oleh pemerintah adalah pendidikan berkarakter untuk semua jenjang pendidikan. Oleh karena itu, guru merupakan agen yang berperan penting dalam menanamkan pendidikan berkarakter di sekolah. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan berkarakter perlu dilakukan sejak dini. Jika karakter sudah terbentuk kata Mendiknas, maka tidak akan mudah mengubah karakter seseorang.

Munculnya gagasan program pendidikan karakter dalam dunia pendidikan di Indonesia, bisa dimaklumi, sebab selama ini dirasakan, proses pendidikan ternyata belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal membangun karakter. Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mentalnya lemah, penakut, dan perilakunya tidak terpuji.

Dr. Ratna Megawangi, dalam bukunya, Semua Berakar Pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007), mencontohkan, bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurutnya, pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.

Dalam bukunya, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (2010), Doni Koesoema Albertus menulis, bahwa pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berkeutamaan. Dalam pendidikan karakter, yang terutama dinilai adalah perilaku, bukan pemahamannya. Doni membedakan pendidikan karakter dengan pendidikan moral atau pendidikan agama. Pendidikan agama dan kesadaran akan nilai-nilai religius menjadi motivator utama keberhasilan pendidikan karakter. Namun, nilai-nilai moral akan bersifat lebih operasional dibandingkan dengan nilai-nilai agama. Dengan demikian, nilai-nilai moral, meskipun bisa menjadi dasar pembentuk perilaku, tidak lepas dari proses hermeneutis yang bersifat dinamis dan dialogis.

Maka, bukan tidak ada usaha bangsa Indonesia dalam mencapai pendidikan berkarakter. Tetapi, pengalaman menunjukkan, berbagai program pendidikan dan pengajaran – seperti pelajaran Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewargaan Negara (PPKN), Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), belum mencapai hasil optimal, karena pemaksaan konsep yang sekularistik dan kurang seriusnya aspek pengalaman. Dan lebih penting, tidak ada contoh dalam program itu. Padahal, program pendidikan karakter, sangat memerlukan contoh dan keteladanan. Kalau hanya slogan dan ’omongan’, orang Indonesia dikenal jagonya!

Harap maklum, konon, orang Indonesia dikenal piawai dalam menyiasati kebijakan dan peraturan. Ide UAN, mungkin bagus. Tapi, di lapangan banyak yang bisa menyiasati bagaimana siswanya lulus semua. Sebab itu tuntutan pejabat dan orangtua, guru tidak berdaya. Kebijakan sertifikasi guru, bagus.Akan tetapi, karena mental materialis dan malas sudah bercokol, kebijakan itu memunculkan tradisi berburu sertifikat, bukan berburu ilmu.Bukan tidak mungkin, gagasan Pendidikan Karakter ini nantinya juga menyuburkan bangku-bangku seminar demi meraih sertifikat pendidikan karakter, untuk meraih posisi dan jabatan tertentu.

Disinilah juga fungsi pendidikan karakter yaitu supaya dapat membenahi moral para penerus bangsa ini. Mungkin kecerdasan memang penting akan tetapi lebih baik lagi apabila kecerdasan tersebut diiringi oleh moralitas yang baik. Pada dasarnya moralitas adalah suatu disiplin. Semua disiplin mempunyai tujuan ganda yaitu mengembangkan suatu keteraturan tertentu dalam tindak-tanduk manusia dan memberinya suatu sasaran tertentu yang sekaligus juga membatasi cakrawalanya.

Pendidikan melalui pengalaman langsung akan mempengaruhi unsure-unsur moral maupun intelektual dari kebudayaan. sesudah kita mengetahui unsure-unsur itu, apa realitas konkret yang diungkapkan oleh perasaan-perasaan moral kita, cara pelaksanaan pendidikan moral pun telah digariskan.
Dari uraian di atas, maka penulis mencoba menelusuri dan mengadakan penelitian yang berhubungan dengan masalah tersebut ke dalam tugas penelitian kualitatif yang berjudul “PENANAMAN PENDIDIKAN BERKARAKTER SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN MORAL KELAS X 7 di SMA N 4 TEGAL “.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana penanaman pendidikan berkarakter di SMA N 4 Tegal ?
b. Hambatan-hambatan apa yang dilalui dalam mencapai pendidikan berkarakter ?
c. Tindakan apa sajakah dalam mencapai pembentukan moral siswa SMA N 4 Tegal ?

C. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui penanaman pendidikan berkarakter di SMA N4 Tegal.
b. Untuk mengetahui hambatan-hambatann dalam mencapai pendidikan berkarakter
c. Untuk mengetahui Tindakan dalam mencapai pembentukan moral siswa SMA N 4 Tegal

D. Manfaat Penelitian
a. Praktis
Memperoleh wawasan pengetahuan yang lebih luas lagi tentang pendidikan karakter dalam pembentukan moral
b. Teoritis
Dengan adanya penelitian ini secara tidak langsung bermanfaat untuk memberi masukkan pada pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah ini, yaitu:
a) Bagi penulis
Mendapatkan pengetahuan mengenai penanaman pendidikan berkarakter dan pembentukan moral.
b) Bagi guru
Dapat dijadikan wawasan dan wacana dalam mengembangkan kualitas dan kuantitas pendidikan.
c) Bagi siswa
Mendapatkan pengetahuan tentang pendidikan berkarakter serta dapat menerapkannya sebagai upaya pembentukan moral.

LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
1. Pengertian pendidikan
Arti pendidikan kita pahami dulu istilah ilmu pendidikan (paedaggiek) dan pendidik (paedagogie). Istilah di ats mempunyai makna berlainan. “ilmu pendidikan” mempunyai makan istilah “paedagogie”. Ilmu pendidikan lebih menitik beratkan kepada pemikiran kalau pendidikan lebih menekan dalam praktek yaitu menyangkut kegiatan belajar mengajar (KBM) (Ahmadi, Uhbiyati, 2001 :93).

Adapun pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan tumbuh kembangnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak (Munib dkk, 2007 :32).
Menurut pendapat Ramayulis, (2005:9&53) fungsi pendidikan yaitu proses pewarisan nilai budaya masyarakat dari satu generasi kepada generasi berikutnya atau pihak yang lebih tua kepada yang lebih muda. Adapun tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan umum yang hendak dicapai untuk seluruh bangsa Indonesia dan merupakan rumusan dari kualitas terbentuknya sikap warga Negara yang dicita-citakan bersama.

Tujuan pendidikan nasional adalah pendidikan sebagai sesuatu proses dan upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja oleh manusia dewasa jelas memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai (Syafei,2006:12).

2. Pendidikan Berkarakter
Pendidikan Karakter menurut Albertus (2010) adalah diberikannya tempat bagi kebebasan individu dalam mennghayati nilai-nilai yang dianggap sebagai baik, luhur, dan layak diperjuangkan sebagai pedoman bertingkah laku bagi kehidupan pribadi berhadapan dengan dirinya, sesame dan Tuhan.

Masyarakat sekarang ini sedang mengalami ancaman dalam tindak kekerasan, vandalism, kejahatan di jalan, adanya geng-geng jalanan, anak-anak yang kabur sekolah, korupsi, hilangnya rasa hormat pada orang lain merupakan sebuah adanya degradasi moral sehingga banyak terjadinya penyimpangan sosial yang ada di masyarakat.

Hadirnya pendidikan karakter merupakan sebuah daya tawar yang berharga bagi seluruh komunitas. Pendidikan karakter dalam hal ini berusaha mempromosikan nilai-nilai positif bagi anak-anak muda dalam kaitannya dengan merosotnya moral bangsa. Nilai-nilai pendidikan karakter yang dimaksud disini bertujuan untuk membentuk karakter terhadap individu agar mempunyai moral yang baik.

Pendidikan karakter menurut Khan (2010) adalah proses kegiatan yang dilakukan dengan segala daya dan upaya secara sadar dan terencana untuk mengarahkan anak didik. Pendidikan karakter juga merupakan proses kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan budi harmoni yang selalu mengajarkan, membimbing, dan membina setiap menusia untuk memiliki kompetensi intelektual, karakter, dan keterampilan menarik. Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat dihayati dalam penelitian ini adalah religius, nasionalis, cerdas, tanggung jawab, disiplin, mandiri, jujur, dan arif, hormat dan santun, dermawan, suka menolong, gotong-royong, percaya diri, kerja keras, tangguh, kreatif, kepemimpinan, demokratis, rendah hati, toleransi, solidaritas dan peduli.

Pendidikan berkarakter bertujuan untuk mencerdaskan dan mewujudkan cita-cita bangsa, serta meminimalisir masalah sosial yang terjadi di masyarakat melalui salah satunya generasi muda.

3. Pengertian Moral
Secara etimologis kata “moral” berasal dari kata Latin “mos”, yang berarti tata cara, adat istiadat atau kebiasaan sedangkan jamaknya adalah “mores”. Dalam arti adat istiadat atau kebijaksaan. Kata “moral” mempunyai arti yang sama dengan kata Yunani “ethos” yang menurunkan kata “etika”. Dalam bahasa Arab kata “moral” berarti budi pekerti adalah sama dengan “akhlak”, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata “moral” dikenai dengan arti “kesusilaan” (Daroeso,1986:22).

Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya perbuatan manusia (Poespoprodjo,1999:118).

Seorang dikatakan bermoral, bilamana orang tersebut bertingkah laku sesuai dengan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat baik apakah itu norma agama, norma hukum dan sebagainya. Dengan demikian moral atau kesusilan adalah keseluruhan norma yang mengatur tingkah laku manusia di masyarakat untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar.

Menurut Wila, yang dikutip oleh Bambang Daroeso (1986:22) bahwa untuk memahami moral dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu :
a. Moral sebagai tingkah laku hidup manusia, yang mendasarkan diri pada kesadaran bahwa ia terikat oleh keharusan untuk mencapai yang baik sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam lingkungannya.
b. Moral sebagai perangkat ide-ide tentang tingkah laku hidup, dengan warna dasar tertentu yang dipegang sekelompok manusia di dalam lingkungan tertentu.
c. Moral adalah ajaran tentang tingkah laku hidup yang baik berdasrakan pandangan hidup atau agama tertentu.

Moral dibatasi sebagai suatu yang berkaitan atau ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salahnya sesuatu tingkah laku atau karakter yang telah diterima oleh suatu masyarakat, termasuk di dalamnya berbagai tingkah spesifik seperti tingkah laku seksual (Haricahyono, 1995 :221).

Menurut Further (1965) (dalam Monks, 1984:252) dalam (Sunarto dan Hartono,2006 :171) “ kehidupan moral merupakan problematik yang pokok dalam masa remaja. Pada saat masa remaja salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok daripadanya dan kemudian bersedia membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial atau masyarakat tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong dan diancam hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak. Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan moral remaja adalah menciptakan komunikasi di samping memberikan informasi dan remaja diberi kesempatan untuk berpartisipasi untuk aspek moral serta menciptakan sistem lingkungan yang serasi dan kondusif (Sunarto dan Hartono, 2006:182).

Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan moral, tingkah laku yang terkecuali disebabkan oleh adanya control dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri buat pelanggar-pelanggarnya (Sarlito, 1992 :92) dalam (Sunarto dan Hartono, 2006:175).

Penelitian Raharjo (2010) tentang Pendidikan Karakter sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia menyimpulkan bahwa pendidikan karakter dapat mempengaruhi akhlak mulia peserta didik. Pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bias membantu mengembangkan sikap etika, moral dan tanggung jawab, memberikan kasih sayang kepada peserta didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter bangsa.

Penelitian Wardani (2009) yang berjudul “Penelitian Karakter Kajian Konseptual dan Kemungkinan Implementasi” menyimpulkan bahwa banyaknya persoalan di masyarakat yang mencakup semua aspek kehidupan mulai masalah korupsi, kekerasan, di berbagai tokoh tertentu yang peduli akan masa depan bangsa.

4. Peserta didik kels X
Peserta didik pada jenjang SMA khususnya kelas X, tergolong usia yang dapat dikategorikan sebagai remaja. Kanopka (dalam Yusuf, 2009:184) menjelaskan bahwa masa remaja meliputi remaja awal 12-15 tahun dan remaja akhir 19-22 tahun. Masa ini sebagai pengantar manusia untuk menuju pada posisi sebagai manusia dewasa yang disiapkan hidup dengan baik di masyarakat.

Soeparwoto (2006 :62-63) menjelaskan bahwa remaja memiliki ciri-ciri sebagai berikut: periode penting, periode peralihan, periode perubahan, usia bermasalah , mencari identitas, usia yang menimbulkan ketakutan, masa yang tidak realistis, dan ambang masa dewasa. Di masa periode itulah apabila peserta didik yang juga sebagai remaja tidak dididik dan dibina secara baik maka dapat mengakibatkan peserta didik akan terarah ke hal-hal positif.

Terkait dengan penelitian ini adalah usia remaja merupakan usia yang diprioritas untuk menuntut ilmu. Peserta didik pada jenjang SMA kelas X sebagian besar termasuk remaja berdasarkan atas siklus pertumbuhannya sehingga peserta didik merupakan generasi muda yang berpotensi sebagai penerus bangsa ke depannya. Bangsa yang maju dibutuhkan para calon pemimpin yang berkualitas dan berkarakter baik, maka dari itu peserta didik yang sebagai generasi muda perlu diberikan pendidikan karakter agar tercetak generasi biasa yang berkualitas.

METODE PENELITIAN

A. Dasar Penelitian
Dalam penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif. Dasar filosofis yang mendasari penelitian ini adalah fenomenologis yang kadang disebut juga Deskriptif Phenomenology yaitu pembuktian yang bersifat deskriptif.
Pengumpulan data pada penelitan kualitatif berupa catatan, rekaman, foto dan laporan.Penyajian data biasanya berupa tulisan bukan angka nominal dan menyoroti kehidupan individu secara holistik tanpa memisahkan individu atau kelompok kedalam variable atau hipotesis. Penelitian fenomenologis diharuskan memberikan interpretasi terhadap gejala tersebut sesuai tujuan dari penulis yaitu mengetahui bagaimana penanaman pendidikan berkarakter di SMA N 4 Tegal.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil tempat di SMA Negeri Empat yang berlokasi di Jalan Dr.Setiabudi No.32 Tegal. Sekolah ini memang sekilas tidak terlihat langsung dari jalan raya. Hal ini dikarenakan terhalang oleg sebuah gedung bernama gedung wanita. SMA Negeri 4 Tegal ini berdiri di belakang gedung wanita. Tempat ini menjadikan lokasi sekolah ini menjadi strategis karena keramaian di jalan raya tidak akan mengganggu suasana belajar mengajar.
C. Fokus Penelitian
Penelitian ini memfokuskan tentang penanaman pendidikan berkarakter sebagai upaya pembentukan moral yang di dalamnya mencakup :
1. Bagaimana penanaman pendidikan berkarakter di SMA N 4 Tegal.
2. Hambatan-hambatan apa yang dilalui dalam mencapai pendidikan berkarakter.
3. Tindakan apa saja dalam mencapai pembentukan moral siswa SMA N 4 Tegal.

D. Subyek Penelitian
Subyek Penelitian ini adalah siswa SMA N 4 Tegal. Tentunya dalam penelitian ini peneliti tidak akan melakukan penelitian pada seluruh siswa SMA N 4 Tegal. Dalam observasi subyek yang akan diambil hanyalah satu kelas saja, yaitu pada kelas X 7. Peneliti memilih kelas ini dikarenakan peneliti melihat kelas ini merupakan kelas yang sangat heterogen akan karakter siswa. Di kelas inilah mereka semua berbaur.
E. Sumber Data Penelitian
Penggolongan data menurut asal sumbernya dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari objek yang akan diteliti ( Suyanto 2006: 55). Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 7 SMA N4 Tegal.
Pengambilan data melalui beberapa sumber informan, yaitu :
a. Wali Kelas X 7 SMA N 4 Tegal
b. Guru yang mengajar di kelas SMA N 4 Tegal
c. Orangtua siswa SMA N 4 Tegal

2. Data sekunder
Sumber data sekunder yang akan didapatkan dalam penelitian ini adalah :
(a) Kata-kata dan tindakan
Kata-kata dan tindakan subyek yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama dengan kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya.

(b) Sumber tertulis
Sumber tertulis merupakan sumber pelengkap untuk menambah wawasan peneliti yang biasanya didapat dari buku, majalah ilmiah, media internet, arsip, dokumen resmi dan pribadi. Penelitian ini akan memilih sumber tertulis yang berupa buku-buku, media internet dan arsip yang berhubungan dengan penanaman pendidikan berkarakter pada siswa, pembentukan moral dan lain-lain.

(c) Foto
Foto sebagai bahan dokumentasi diperlukan dalam penelitian ini sebagai bukti gambaran deskriptif mengenai suatu objek. Hasil foto yang subjektif akan dianalisis secara induktif agar penelitian bersifat objektif ( Moleong 2002: 114). Dokumentasi foto yang diinput adalah foto tindakan siswa baik yang mencerminkan pendidikan berkarakter maupun tindakan menyalahi moral.

F. Metode Pengumpulan Data
1. Wawancara
Hubungan pewawancara dengan yang diwawancarai bersifat bebasa dalam suasana biasa hal ini memungkinkan agar proses tanya jawab tidak baku melainkan agar informasi yang didapat lebih luas. Model wawancara yang digunakan mengacu pada wawancara tidak terstruktur atau bebas terpimpin dimana pelaksanaan tanya jawab mengalir seperti dalam pelaksanaan tanya jawab mengalir seperti dalam percakapan sehari-hari.
a. Wawancara Terbuka
Wawancara ini diawali dengan mengunjungi lingkungan sekolah SMA N 4 Tegal, subyek disini adalah siswa kelas X 7. Dalam proses wawancara peneliti harus dapat beradaptasi dan berinteraksi baik di lapangan sehingga tercipta suasana kekeluargaan, dan tidak terlihat kesenjangan.
Dibutuhkan dua sumber yang perlu diwawancarai atau interviewed yaitu subyek dan informan yang akan memberi informasi. Subyek yang dimaksud adalah para siswa kelas X 7 SMA N 4 Tegal dan informan yang dibutuhkan meliputi :
1) Wali Kelas X 7 SMA N 4 Tegal
2) Guru yang mengajar di kelas SMA N 4 Tegal
3) Orangtua siswa SMA N 4 Tegal

b. Wawancara Mendalam
Wawancara yang dilakukan ini dalam suasana santai, setiap jawaban mengalir tanpa menyediakan jawaban yang sistematis namun bukan berarti jawaban asal-asalan tapi juga memiliki kualitas. Informasi yang yang didapat dari informan mendalam bersifat peka atau sensitive terhadap kehidupan mereka. Oleh karena itu pertanyaan yang diajukan pada subyek lebih baik jika berada di luar kelas misalnya saja pada jam istirahat karena akan lebih mendetail, akurat dan konkret.

2. Observasi
Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan karena peneliti tidak terlibat secara langsung dengan melakukan aktivitas orang yang diamati, tapi peneliti disini sebagai pengamat independent dengan mencatat, mengamati, selanjutnya membuat kesimpulan tentang perilaku siswa kelas X 7 SMA N 4 Tegal.

3. Dokumentasi
Penelitian ini akan menggunakan metode dokumentasi yang utama, berupa arsip atau dokumen, foto, dan data dari internet secara optimal yang memberikan penjelasan dan keterangan lengkap mengenai perihal berkaitan dengan tindakan siswa kelas X 7 dalam pendidikan berkarakter sebagai upaya pembentukan moral bangsa. Tidak menutup kemungkinan pula jika nanti dalam proses penelitian menemukan sumber dokumentasi lain yang dapat membantu penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abu. Drs. H.Uhbiyati. Ilmu Pendidikan.2001. Rineka Cipta
Albertus, Doni Koesoema.2010. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: PT.Grasindo
Asri, Budiningsih C.2004. Pembelajaran Moral. Jakarta : Rineka Cipta
Daroeso, Bambang. 1986. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang : Aneka Ilmu
Durkheim, Emile. 1990. Pendidikan Moral. Jakarta : Erlangga
Haricahyono, Cheppy. 1988. Pendidikan Moral dalam Beberapa Pendekatan. Jakarta:P2LPTK
Khan, Yahya. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri. Yogyakarta : Pelangi Publishing
Mendiknas. Pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed), Sabtu (15/4/2010).
Moleong. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT.Remaja Rosdakarya
Munib, Ahmad dkk. Pengantar Ilmu Pendidikan. 2007. UNNES
Poespoprodjo, W. 1999. Filsafat Moral Kesusilaan dalam Teori dan Praktek. Bandung : CV Pustaka Grafika
Raharjo, F.X.Supriyono. 2006. “Pembentukan Karakter dan Pengembanagan Kompetensi Siswa Pendidikan Teknik di SMK Santo Mikael Surakarta Melalui Penerapan Total Quality Management”. Dalam Jurnal Penelitian dan Evaluasi
Ramayulis. Metodologi Pendidikan Agama Islam. 2005. Jakarta : Kalam Mulia
Sunaryo dan Hartono, Agung, 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Rineka Cipta
Syafei, Sahlan. 2006. Bagaimana Anda Mendidik Anak. Depok. Penerbit Ghana Indonesia
Wardani.2009. Pendidikan Karakter Kajian Konseptual dan Kemungkinan Implementasi: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Tangerang dalam Jurnal Pendidikan No.2 halaman 85-94

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: